This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Jumat, 19 Oktober 2012
Senjata Bio-elektromagnetik: Senjata Pamungkas Amerika
Sebuah sistem senjata yang
beroperasi pada kecepatan cahaya, yang dapat membunuh, menyiksa,
memperbudak, melacak orang yang melarikan diri, Harlan Girard
A fully referenced version of this article is posted on ISIS members’ website. Details here
Senjata elektromagnetik beroperasi pada
kecepatan cahaya, mereka dapat membunuh, menyiksa dan memperbudak,
tetapi sebagian besar masyarakat tidak menyadari bahwa senjata itu ada,
karena senjata tersebut beroperasi secara sembunyi-sembunyi dan tidak
meninggalkan bukti berupa jejak fisik. Senjata elektromagnetik ini telah
diuji kepada manusia sejak tahun 1976. Dengan menyebarnya manusia di
dunia yang merupakan subyek percobaan, namun di luar kesadarannya,
senjata tersebut dengan antusias menyerang kredibilitasnya, keadaan ini
telah memungkinkan bagi Amerika Serikat untuk terus melanjutkan
percobaannya kepada manusia tanpa terhalang oleh diskusi atau kritik,
apalagi oposisi.
Sistem senjata pamungkas saat ini sedang
digunakan di Irak. Angkatan Udara Amerika Serikat dan Korps Marinir
menyebutnya sebagai “active denial technology - teknologi penolakan
aktif", seolah-olah senjata itu digunakan murni semata-mata untuk
pertahanan, tetapi sebenarnya tidak.
Kebenaran mengenai “active denial technology - teknologi penolakan aktif ”
Hanya ada satu spektrum elektromagnetik.
Senjata nuklir melepaskan banyak radiasi pengion (ionizing ) dalam
rentang frekuensi tinggi di atas cahaya yang kelihatan, di mana energi
radiasinya mampu memecah ikatan kimia. Radiasi pengion (ionizing )
umumnya diakui sebagai penyebab kanker.
Militer Amerika Serikat telah
mempersenjatai dengan radiasi non-ionisasi di bawah kisaran yang
terlihat dalam gelombang mikro dan gelombang radio yang digunakan di
ponsel dan telekomunikasi. Pemerintah Amerika Serikat dengan keras telah
membantah bahwa kemungkinan adanya bahaya terhadap kesehatan dari
non-pengion radiasi elektromagnetik, baik dalam rangka mempertahankan
penelitiannya terhadap manusia yang berada di luar kesadarannya yang
sudah dilakukakannya selama bertahun-tahun tapi belum diakui, maupun
dalam rangka mencegah negara-negara lain melakukan pengembangan senjata
sejenis .
Efek biologis satu-satunya dari radiasi
non-pengion yang diakui pemerintah Amerika Serikat selama bertahun-tahun
adalah pemanasan, dan dengan demikian hal tersebut mencirikan
"Teknologi penolakan aktif - “active denial technology", sesuatu yang
menghasilkan rasa sakit sebagai akibat terjadinya pemanasan pada kulit
dengan mendadak, akan tetapi hal tersebut tidaklah menjelaskan bagaimana
senjata itu benar-benar bekerja.
Membaca gelombang otak dan kendali pikiran
Pada tahun 1959, Saul B. Sells, seorang
profesor psikologi sosial dari sebuah universitas kecil di Amerika
Serikat mengajukan proposal kepada Central Intelligence Agency (CIA)
untuk membuatkan mereka mesin electroencephalography (EEG) yang paling
canggih yang akan memiliki kapasitas komputasi integral untuk
menganalisis dan positif memahami gelombang otak yang direkam. Dengan
kata lain, sang profesor mengusulkan untuk membuat sebuah mesin yang
bisa memberitahu CIA bagaimana seseorang berpikir, apakah orang ingin
mengungkapkannya atau tidak informasi tersebut.
CIA menyetujui proyek ini pada tahun
1960, dengan menambahkan beberapa penelitian kepustakaan dengan lima
tujuan. Kelima tujuan dari penelitian ini adalah untuk, "Teknik Dalam
Mengaktifkan Organisme Manusia dengan Peralatan Elektronik Jarak Jauh ".
Tugas keseluruhnya kemudian dikenal sebagai MKULTRA subproyek 119,
MKULTRA menjadi terkenal sebagai program pengendalian pikiran CIA. Hal
ini didasarkan atas gagasan yang keliru bahwa Soviet telah memiliki
sarana untuk mengontrol pikiran dan Amerika Serikat harus mengejarnya
secepat mungkin.
Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan
MKULTRA subproyek 119 sekarang disimpan di Arsip Keamanan Nasional
(sebuah organisasi non-pemerintah) di George Washington University,
Washington, DC [1]. John Marks, penulis The Search for the Manchurian
Candidate: The CIA and Mind Control,, (Times Books, New York, 1979)
menyumbangkan dokumen MKULTRA, bukunya dicetak ulang oleh WW Norton
& Company, Inc, New York, 1991 dan masih dicetak sampai sekarang.
Proyek Aneh ini diikuti MKULTRA
subproyek 119 pada tahun 1965. Tujuan dari Proyek Aneh ini adalah untuk
merekam dan menganalisis sinyal rumit microwave yang waktu itu diduga
menyoroti gedung Kedutaan Besar Amerika di Moskow yang dilakukan oleh
Soviet dari sebuah gedung di seberang jalan. Hal yang menarik tentang
Proyek Bizarre adalah bahwa sementara Amerika Serikat menolak sampai
hari ini bahwa ada efek terhadap kesehatan yang merugikan sebagai akibat
radiasi gelombang mikro, tapi Amerika Serikat langsung mencurigai
bahwa "sinyal Moskow" memproduksi berbagai efek kesehatan terhadap staf
Kedutaan Besar Amerika, khususnya sewaktu pergantian Duta Besar yang
baru dimana kantor Kedutaan Besarnya diklaim sedang disrot sinyal. Pada
saat yang sama Departemen Luar Negeri sedang menguji personil Kedutaan
Besar dalam memecahkan DNA yang ditimbulkan oleh sinyal Moskow, namun
akhirnya Amerika Serikat tidak jadi melakukan pengaduan kepada
pemerintah Soviet karena kekuatan sinyalnya kecil sebagaimana dikatakan
pemerintah Amerika Serikat bahwa sinyal tersebut masih dalam batas-batas
aman untuk kadar manusia. Wartawan Barton Reppert telah menulis kisah
yang paling otoritatif mengenai sinyal Moskow [2]. (Catatan Editor:.
Pemecahan DNA dari pencahayaan kepada ponsel telah dikonfirmasi dalam
penelitian laboratorium baru-baru ini [3, 4] (Science in Society 24))
Mengkonversi suara menjadi microwave
Pada tahun 1973, Joseph C. Sharp,
seorang psikolog eksperimental di Walter Reed Army Institute of Research
melakukan percobaan penting untuk pengembangan peralatan penyiksaan
yang dikirim ke Irak hari ini. Dia bersama James Lin menyiapkan
peralatan di laboratorium yang mengkonversi bentuk gelombang suara
menjadi radiasi gelombang mikro yang memungkinkan dia untuk mendengar
dirinya menyuarakan nama-nama angka dari satu sampai sepuluh di
kepalanya, dengan melewatkan mekanisme di telinganya sendiri. Percobaan
ini tentu tidak pernah diterbitkan namun disebutkan dalam buku Lin,
Microwave Auditory Effects and Applications, diterbitkan pada tahun 1978
[5].
Percobaan telah dikonfirmasi dengan US
Patent 6 587 729, “Apparatus for Audibly Communicating Speech Using the
Radio Frequency Hearing Effect” [6]. Paten ini adalah untuk versi
perbaikan dari peralatan yang digunakan dalam percobaan laboratorium
tahun 1973 yang dikeluarkan pada tanggal 1 Juli 2003 yang ditugaskan
kepada Secretary of the Air Force. Ini memberikan bukti ilmiah bahwa
adalah mungkin untuk mendengar suara-suara ancaman di kepala seseorang
tanpa menderita skizofrenia paranoid.
Mengapa paten ini dipublikasikan secara
terbuka pada saat Pemerintah Amerika Serikat sedang melaksanakan program
rahasia yang menyaingi Stalin Kremlin? Saya tidak memiliki jawaban yang
memuaskan, kecuali mengatakan bahwa peralatan dalam paten telah
digantikan dengan peralatan yang mencapai efek yang sama dengan sarana
yang jauh lebih canggih. Ia menghambat proses normal memori dan
berpikir dengan cara elektronik dari jarak jauh, sementara pada saat
yang sama memasok memori palsu, menyimpang dan / atau tidak menyenangkan
serta saran melalui suatu proses yang disebut "telepati sintetik".
Peralatan yang menghasilkan telepati sintetis ini kadang-kadang disebut
juga sebagai "teknologi pengaruh - “influence technology”.".
Sementara suara dan visi, lamunan serta
mimpi buruk adalah merupakan manifestasi paling menakjubkan dari sistem
senjata ini, juga mampu melumpuhkan manusia dengan membatasi jarak
gerak normalnya (laki-laki dan perempuan) , menyebabkan nyeri akut yang
setara dengan kegagalan organ penting dalam tubuh manusia atau bahkan
kematian, dan mengganggu fungsi normal salah satu indera manusia. Dengan
kata lain, beberapa penyiksaan telah menjadi identik dengan penyiksaan
Teluk Guantanamo dapat dilaksanakan dari jarak jauh dengan sarana
elektronik.
Instrumen penyiksaan
Jenderal Keith B. Alexander dan General David Lacquement
diduga menggunakan senjata rahasia anti-personil untuk menyerang
warga sipil yang tidak berdosa
Teknologi untuk mempengaruhi ini juga
mampu membujuk pelaku bahwa pikiran mereka sedang dibaca, bahwa kekayaan
intelektual mereka sedang dijarah, dan bahkan dapat memotivasi untuk
melakukan bunuh diri atau membunuh keluarga, teman, dan rekan kerja.
Selama tahun-tahun apa yang disebut dengan "Perang terhadap Narkoba"
(mendahului "Perang Melawan Terorisme"), karakter subyek manusia yang
berada di luar kesadarannya telah melapor atau siap menyambut secara
teratur keluar dari sistem, seolah-olah pemerintah memiliki operasi
rahasia besar melalui kantor pos di seluruh negeri. Ketika George
Herbert Walker Bush menjadi presiden (tahun 1989), insiden pembunuhan
terhadap rekan kerja di kantor pos semakin meningkat dan ungkapan “going
postal” mulai menggantikan ungkapan yang umumnya digunakan yaitu
“going crazy”. Pembunuhan rekan kerja di tempat kerja lainnya juga
mulai menuntut perhatian yang lebih dari media [7].
Saya memperkirakan bahwa biaya untuk
memenjarakan manusia (laki-laki dan perempuan) dan melakukan penyiksaan
yang tak berkesudahan adalah sebesar US $ 5,000.000 menjadi $
10.000.000/ tahun (lihat di bawah).
Dengan "penyiksaan yang tak
berkesudahan" Maksudku ya penyiksaaan itu. Karena tidak ada bukti nyata
yang ditinggalkan oleh peralatan penyiksaan baru ini seperti kerusakan
kulit, adalah mungkin untuk menyiksa subyek manusia diluar kesadarannya
selama 24 jam sehari, dan 365 hari setahun. Hal ini dapat dilakukan dan
sedang dilakukan bahkan pada Natal dan Paskah [8].
Saya sampai kepada perkiraan mengenai
biaya pengujian / menggunakan senjata elektromagnetik yang subjeknya
manusia dengan mengunjungi sebuah saluran TV kabel yang mengkhususkan
diri dalam penjualan barang yang selama 24 jam mengudara. Saya
mempertanyakan mengenai berapa jumlah staf teknis yang diperlukan, jam
kerja dan skala gaji, juga jumlah back-up personil yang dibutuhkan untuk
mempersiapkan program siaran. Saya tidak menanyakan tentang biaya
elektronik dan jadwal dengan biaya yang disusutkan. Saya telah
memperkirakan biaya penyusutan yang termasuk dalam perkiraan saya untuk
biaya menyiksa seorang subjek manusia yang berada diluar kesadarannya
selama satu tahun.
Penyiksaan adalah bisnis padat karya.
Tujuan apa yang akan membenarkan investasi ini? Mungkinkah sesuatu yang
gila untuk menguasai dunia dengan cara memperbudak pemerintahan
demokratis dari negara-negara yang padat jumlah penduduknya? Tujuan ini
tentunya konsisten dengan Amerika Serikat yang beroposisi terhadap ide
PBB, Konvensi Internasional dan Perjanjian-perjanjian Internasional
serta Hukum Adat Internasional yang telah diratifikasi [9].
Pada tanggal 1 Maret 2001, Korps Marinir
mengumumkan senjata baru yang tidak mematikan - non-lethal weapon,
“active denial technology- teknologi penolakan aktif". Senjata ini
mengakibatkan rasa sakit yang amat sangat yang diduga keras dilakukan
dengan mendidihkan molekul air dalam kulit manusia tanpa merusak kulit
itu sendiri. Seperti dijelaskan dalam sebuah artikel yang diterbitkan
dalam New Scientist, menggunakan radiasi elektromagnetik denyut pada
frekuensi 95 GHz dengan jarak sekitar 600 meter [10]. Terdapat laporan
baru dalam beberapa majalah di tahun 2005, termasuk satu yang
diterbitkan pada bulan Juli [11], menjelaskan bahwa relawan mengambil
bagian dalam tes untuk menentukan seberapa aman Active Denial System
(ADS) jika senjata digunakan dalam realitas kerumunan-manusia yang
dikontrol. Sinyal senjata ADS tersebut dilaporkan telah menyebabkan
rasa sakit dalam waktu 2 sampai 3 detik, dan menjadi "tak tertahankan
setelah kurang dari 5 detik".
Teknologi penolakan aktif - Active
denial technology adalah dasar sistem yang digunakan untuk menyiksa 2
000 orang di dalam privasi rumah mereka sendiri, tidak hanya di Amerika
Serikat tetapi juga di seluruh dunia, termasuk di negara yang telah
menandatangani Status of Forces Agreements dengan Amerika Serikat [12].
Tuduhan penyiksaan pertama kali diterima dari negara-negara dimana
Amerika Serikat memiliki hubungan khusus dalam berbagi intelijen dengan
Inggris, Kanada, Australia dan Selandia Baru. Kemudian laporan mulai
berdatangan dari negara-negara yang ditundukkan dimana Amerika Serikat
masih memiliki sejumlah besar pasukan yang ditempatkan, yaitu Jerman dan
Jepang. Ketika Perancis bergabung kembali dengan kekuatan militer NATO
di akhir 90-an, kami mulai menerima pernyataan penyiksaan di Perancis.
Baru-baru ini kami telah mulai menerima tuduhan penyiksaan dari India,
di mana perusahaan-perusahaan Amerika telah mulai outsourcing, tidak
hanya membantu lintasan, tetapi juga pemrograman [13].
Dan kemudian ada kasus di Rusia, di mana
korban yang diluar kesadarannya , subyek manusia yang dijadikan
percobaan penyiksaan tampaknya banyak dan terorganisasi dengan baik.
Saya telah diberitahu dari sumber yang dapat dipercaya bahwa setiap
ilmuwan Rusia yang bisa berbahasa Inggris kini telah mendapatkan naungan
di sebuah universitas Amerika atau laboratorium pemerintah. Ini masuk
akal, mengingat kekhawatiran Amerika sering menyuarakan bahwa ahli dalam
persenjataan nuklir dan senjata biologi era Soviet (sekarang Russia)
mungkin menemukan pekerjaannya di Iran. Ini adalah fakta bahwa pada
akhir Perang Dunia II Angkatan Darat Amerika Serikat membersihkan
Jerman dalam operasi yang disebut Proyek Paperclip, merekrut, khususnya,
para ilmuwan roket Nazi dan ahli dalam kedokteran kedirgantaraan.
Beberapa ilmuwan lain direkrut hanya untuk menghilangkan kesempatan Uni
Soviet terhadap sumber daya ini. Jadi apa yang terjadi dengan para
ilmuwan Soviet yang tidak berbahasa Inggris? Pada waktunya kita akan
mengetahui dengan pasti, tapi untuk saat sekarang ini merupakan dugaan
yang dapat dipercaya bahwa setidaknya beberapa dari mereka telah
digunakan untuk mempelajari sistem nilai dan proses pengambilan
keputusan Rusia dengan menyiksa orang-orang Rusia lainnya dengan
menggunakan "teknologi pengaruh - influence technology” Amerika [14].
Dua artikel menarik dan penting mengenai senjata bio-electromagnetik baru-baru ini muncul dalam New Scientist: “Maximum pain is aim of new U.S. weapon” dan “Police toy with ‘less lethal’ weapons”, - keduanya ditulis oleh David Hambling [15]. Lihat juga US. Patent 6 536 440 25 Maret 2003 [16].
The Scream - Israel blasts protesters with sonic gun ....
Sejak menyelesaikan artikel ini pada
pertengahan Juni 2005, telah menjadi perhatian saya bahwa Israel telah
menyebarkan sebuah alat yang disebut "The Scream", yang mengirim
semburan yang dapat didengar, tapi suaranya tidak keras dan berlangsung
pada interval sekitar 10 detik. Seorang fotografer di tempat demonstrasi
mengatakan bahwa ia terus mendengar dering suara di kepalanya bahkan
setelah ia menutupi telinganya. Hal ini menunjukkan kepada saya bahwa
agen aktif adalah elektromagnetik ketimbang akustik. Dengan kata lain,
orang-orang Israel telah muncul dengan perangkat yang jauh lebih pintar
daripada "Teknologi penolakan aktif - active denial technology "
Amerika
Serikat. Ini tidak hanya berfungsi untuk menghalangi para perusuh,
tetapi juga mengeluarkan peringatan suara yang telah diaktifkan,
perangkat yang dimiliki Amerika Serikat tidak memilikinya, mempercayakan
sepenuhnya kepada tamtama yang mengoperasikan alat itu untuk
menentukan seberapa jauh rasa sakit yang membakar musuh yang diterima.
Margin kesalahan untuk perangkat Amerika Serikat adalah tidak bermoral.
Senja ini juga disebut senjata yang mematikan karena dalam prakteknya
sangat sering mematikan [17]
Non-Lethal Weapon: Active Denial System (ADS)
Diterjemahkan oleh: akhirzaman.infoRabu, 17 Oktober 2012
Jokowi lebih pilih proyek monorail
Jakarta (ANTARA News) - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengisyaratkan akan memberikan persetujuan terlebih dahulu kepada PT Adhi Karya Tbk (ADHI) untuk membangun monorail.
Alasan Jokowi lebih memilih proyek monorail sebab dana yang digunakan berasal dari konsorsium BUMN tanpa melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Justru APBN bisa kita gunakan untuk yang lain. Jadi bukan hanya untuk membangun kereta layang," kata Jokowi saat ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (16/10).
Jokowi berkeinginan BUMN dapat mengajak investor dalam negeri atau bersinergi dengan sesama BUMN untuk mengerjakan proyek infrastruktur baik monorail maupun kereta layang.
"Kalau ada investor yang investor aja. Akan lebih baik lagi BUMN, maka kita akan lebih senang. Artinya, semua dalam negeri," tuturnya.
Oleh sebab itu, Jokowi akan memprioritaskan BUMN yang dapat mengerjakan proyek dengan menggunakan produk dalam negeri. Kendati demikian, Jokowi menghendaki ADHI dan Hutama Karya mempresentasikan proposal proyek tersebut.
"Bagi saya yang penting mereka presentasi dulu. Kita akan lihat presentasinya murah atau tidak, efisien atau tidak. Kita akan lihat secara profesional," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama ADHI Kiswodarmawan mengungkapkan, perseroan akan berkonsorsium dengan BUMN serta mengajak BUMD untuk menggarap proyek monorail Jakarta. Proyek ini akan terbagi dalam dua tahap, yakni tahap pertama mulai dikerjakan pada tahun ini dan diperkirakan selesai 2015 mendatang dan tahap kedua dimulai pada 2015.
"Tahap pertama ini diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp12--13 triliun. Dananya berasal dari konsorsium BUMN dan BUMD," ujar Kiswodarmawan.
Sementara itu, Direktur Utama Hutama Karya Tri Widjajanto menambahkan, perseroan akan membangun Kereta layang dengan sistem light rail transit (LRT). Dana untuk pembangunan ini diharapkan berasal dari APBN karena merupakan transportasi publik.
(KR-SSB/N001)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2012Selasa, 16 Oktober 2012
Misil Korea Utara bisa menjangkau Amerika
Jakarta (ANTARA News) - Korea Utara mengklaim memiliki misil yang dapat mencapai ke daratan utama Amerika Serikat.
Pernyataan itu berbunyi basis AS di "Jepang, Guam, dan daratan utama AS" berada dalam "jangkauan serangan".
Pernyataan itu keluar dua hari setelah Seoul mengungkapkan perjanjian rudal dengan AS. Korea Selatan mengumumkan senjatanya itu akan menjangkau hampir tiga kali lipat dari sistem rudal itu sendiri.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan kantor berita KCNA terkait dengan Komisi Pertahanan Nasional Korut, Pyongyang akan memadankan musuh dalam "nuklir dengan nuklir, misil dengan misil,", seperti yang dikutip dari BBC.
Pyongyang diduga mengerjakan misil dengan jangkauan panjang. Dua roket yang telah dites gagal.
Negara-negara tetangga Korut mengatakan roket yang gagal itu, pada April 2009 dan April 2012, dites terkait pengembangan sistem misil jankauan panjang Taepodong-2.
Sistem, yang dipercaya para analis bermaksud memasukkan AS dalam jarak serang, belum diuji secara sukses.
Korutsecara ruitn mengeluarkan aksi terhadap Seoul dan Washington. Minggu (6/10), Korsel mengumumkan persetujuan dengan AS untuk memperluas jangkauan rudal balistik.
Dalam persetujuan sebelumnya, misil dengan jarak jangkau 300 kilometer dinyatakan terlarang. Dengan perjanjian baru, jarak jangkau diperluas hingga 800 kilometer.
Penasihat Kemanan Korsel Chun Yung-woo mengatakan tujuan perjanjian itu adalah untuk membatasi "provokasi militer oleh Korut".
Kedua negara itu, Korut dan Korsel, masih bersitegang setelah Perang Korea 1950-53 yang berakhir dengan gencatan senjata. AS memiliki lebih dari 28.000 tentara di Korsel dan memberikan jaminan kemanan bagi sekutunya.
Jumat, 12 Oktober 2012
3 Kompetisi Internasional Digelar di Indonesia Game Show
KOMPAS.com - Pameran game Indonesia Game Show
(IGS) kembali digelar. Tahun 2012 ini merupakan tahun keempat
penyelenggaran ajang kumpul para gamer Indonesia.
Tahun ini, IGS akan digelar pada tanggal 12 - 14 Oktober 2012 bertempat di Assembly Hall JCC Senayan, Jakarta.
IGS 2012 menghadirkan berbagai acara seperti kompetisi mobile game, seminar, talkshow, dan lainnya.
Acara utama dalam IGS 2012 adalah kompetisi e-sport game yang terdiri dari tiga kompetisi utama yaitu World Cyber Game (WCG) 2012 road to China, Electronic Sport Cyber Game (ESWC) 2012 road to Paris, dan The Game Expo (TGX) 2012 road to Malaysia.
Untuk game yang dipertandingkan adalah CS Online dan CrossFire (untuk WCG 2012), FIFA 2013, Tekken Tag Team 2, Point Blank, dan DotA (untuk ESWC 2012), DotA 2 dan Counter Strike Global Offensive (untuk TGX 2012).
Para pemenang kompetisi e-sport game utama akan dikirim ke luar negeri untuk bertanding melawan juara-juara kompetisi dari berbagai Negara di Grand Final; Kunshan China (untuk WCG 2012); Paris (untuk ESWC 2012); Malaysia (untuk TGX 2012).
WCG sudah diadakan sebelas kali di Indonesia, dimana pada tahun lalu Indonesia menjadi tuan rumah untuk WCG Asian Championship yang dihadiri 14 negara, dan ESWC sudah diadakan tujuh kali di Indonesia.
Sedangkan TGX baru diselengarakan pertama kalinya di Indonesia pada tahun ini, The Games Expo (TGX) adalah kompetisi game yang diadakan di beberapa Negara di Asia Tenggara setiap tahunnya. TGX sendiri diadakan untuk memperkuat komunitas pecinta e-sport game khususnya di Asia Tenggara.
Selain kompetisi game, acara ini juga ditujukan untuk mendorong dan mendukung perkembangan game development di Indonesia. Oleh karena itu penyelengara telah menyiapkan seminar dan talk show untuk komunitas pecinta game agar lebih dekat dan mengetahui lebih jauh tentang perkembangan didunia game saat ini.
Salah satunya adalah Talkshow yang menghadirkan Shuji Utsumi, dari Q entertainment Jepang yang membuat game populer seperti “Crash Bandicot”, “Sakura Wars”, dan “Kingdom Hearts” dengan tema Business and Marketing Programs for Game Developer.
"Semoga dengan event Indonesia GameShow ini, bisa menjadi jembatan penting antara game developer dengan para pebisnis dan pencari bakat untuk memajukan industry games di Indonesia," kata Mr. CEO PT. Megindo Tunggal Sejahtera, Wendy Vega, dalam siaran pers yang diterima KompasTekno.
Tahun ini, IGS akan digelar pada tanggal 12 - 14 Oktober 2012 bertempat di Assembly Hall JCC Senayan, Jakarta.
IGS 2012 menghadirkan berbagai acara seperti kompetisi mobile game, seminar, talkshow, dan lainnya.
Acara utama dalam IGS 2012 adalah kompetisi e-sport game yang terdiri dari tiga kompetisi utama yaitu World Cyber Game (WCG) 2012 road to China, Electronic Sport Cyber Game (ESWC) 2012 road to Paris, dan The Game Expo (TGX) 2012 road to Malaysia.
Untuk game yang dipertandingkan adalah CS Online dan CrossFire (untuk WCG 2012), FIFA 2013, Tekken Tag Team 2, Point Blank, dan DotA (untuk ESWC 2012), DotA 2 dan Counter Strike Global Offensive (untuk TGX 2012).
Para pemenang kompetisi e-sport game utama akan dikirim ke luar negeri untuk bertanding melawan juara-juara kompetisi dari berbagai Negara di Grand Final; Kunshan China (untuk WCG 2012); Paris (untuk ESWC 2012); Malaysia (untuk TGX 2012).
WCG sudah diadakan sebelas kali di Indonesia, dimana pada tahun lalu Indonesia menjadi tuan rumah untuk WCG Asian Championship yang dihadiri 14 negara, dan ESWC sudah diadakan tujuh kali di Indonesia.
Sedangkan TGX baru diselengarakan pertama kalinya di Indonesia pada tahun ini, The Games Expo (TGX) adalah kompetisi game yang diadakan di beberapa Negara di Asia Tenggara setiap tahunnya. TGX sendiri diadakan untuk memperkuat komunitas pecinta e-sport game khususnya di Asia Tenggara.
Selain kompetisi game, acara ini juga ditujukan untuk mendorong dan mendukung perkembangan game development di Indonesia. Oleh karena itu penyelengara telah menyiapkan seminar dan talk show untuk komunitas pecinta game agar lebih dekat dan mengetahui lebih jauh tentang perkembangan didunia game saat ini.
Salah satunya adalah Talkshow yang menghadirkan Shuji Utsumi, dari Q entertainment Jepang yang membuat game populer seperti “Crash Bandicot”, “Sakura Wars”, dan “Kingdom Hearts” dengan tema Business and Marketing Programs for Game Developer.
"Semoga dengan event Indonesia GameShow ini, bisa menjadi jembatan penting antara game developer dengan para pebisnis dan pencari bakat untuk memajukan industry games di Indonesia," kata Mr. CEO PT. Megindo Tunggal Sejahtera, Wendy Vega, dalam siaran pers yang diterima KompasTekno.
Sabtu, 29 September 2012
Skenario Menuju Perang Dunia III? Peran Israel Dalam Memicu Serangan Atas Iran
Penimbunan dan penyebaran sistem senjata
canggih yang diarahkan terhadap Iran dimulai sesudah pengeboman dan
invasi kepada Irak tahun 2003. Sejak awal, rencana perang ini dipimpin
oleh Amerika Serikat, dalam hubungannya dengan NATO dan Israel.
Setelah invasi Irak tahun 2003,
pemerintahan Bush mengidentifikasi Iran dan Suriah sebagai tahapan
berikutnya dari "peta jalan untuk perang". Sumber-sumber militer Amerika
Serikat mengisyaratkan bahwa serangan udara terhadap Iran bisa
melibatkan penyebaran yang berskala besar sebanding dengan "shock and awe" serangan bom Amerika Serikat di Irak pada Maret tahun 2003.
"Serangan udara Amerika terhadap Iran
akan jauh melebihi jangkauan serangan Israel tahun 1981 di pusat nuklir
Osiraq di Irak, dan akan lebih menyerupai hari pertama dari serangan
udara tahun 2003 melawan Irak (See Globalsecurity).
"Theater Iran Near Term" (TIRRANT)
Nama kode yang diberikan oleh para
perencana militer Amerika Serikat adalah TIRANNT, "Theater Iran Near
Term", simulasi serangan terhadap Iran telah dimulai pada Mei tahun 2003
"ketika pemodel dan spesialis intelijen mengumpulkan data yang
diperlukan untuk tingkat-medan perang (berarti berskala besar) analisis
skenario bagi Iran." ((William Arkin, Washington Post, 16 April 2006).
Skenarionya mengidentifikasikan beberapa ribu sasaran di dalam wilayah Iran sebagai bagian dari "Shock and Awe" Blitzkrieg:
"Analisis yang disebut TIRANNT, singkatan dari "Theater Iran Near Term," masih ditambah pula dengan skenario tiruan invasi Korps Marinir dan simulasi kekuatan rudal Iran. Dalam waktu yang bersamaan para perencana Amerika Serikat dan Inggris melakukan sebuah permainan perang Laut Kaspia. Bush mengarahkan Komando Strategis Amerika Serikat untuk menyusun rencana aksi serangan perang global untuk menyerang lokasi senjata pemusnah massal Iran. Semua ini akhirnya akan menjadi masukan berupa rencana perang baru untuk "major combat operations" terhadap Iran yang sekarang sudah dikonfirmasikan oleh sumber militer [April 2006] dalam bentuk draft.
... Di bawah TIRANNT, Angkatan Darat dan Perencana Pusat Komando Amerika Serikat telah melakukan pemeriksaan, baik skenario jangka pendek maupun jangka panjang perang dengan Iran, termasuk semua aspek operasi tempur utama, dari mobilisasi dan pengerahan pasukan melalui operasi stabilitas pasca perang setelah terjadi perubahan rezim. " (William Arkin, Washington Post, 16 April 2006)
Perbedaan “Skenario medan perang" dalam
menyerang Iran secara maksimal telah dipikirkan: "Angkatan Darat,
Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Marinir Amerika Serikat telah memiliki
semua rencana pertempuran yang disusun selama empat tahun, membangun
pangkalan-pangkalan dan pelatihan untuk melaksanakan "Operasi Pembebasan
Iran." Laksamana Fallon, Kepala Pusat Komando Amerika Serikat yang baru
telah menerima rencana komputerisasi TIRANNT (Teater Iran Near Term)."
(New Statesman, 19 Februari 2007)
Pada tahun 2004, dirumuskan skenario
perang awal di bawah TIRANNT, Wakil Presiden Dick Cheney
menginstruksikan USSTRATCOM untuk menyusun sebuah "rencana darurat"
operasi militer berskala besar yang diarahkan terhadap Iran "digunakan
dalam merespon terhadap serangan teroris sejenis 9/11 di Amerika
Serikat" dengan anggapan bahwa pemerintah Teheran berada di belakang
persekongkolan teroris. Rencana tersebut termasuk penggunaan pre-emptive senjata nuklir terhadap negara non-nuklir
The Military Road Map: "Pertama Iraq, kemudian Iran""Rencana tersebut termasuk serangan udara besar-besaran terhadap Iran baik menggunakan senjata nuklir maupun konvensional dan taktis. Di dalam wilayah Iran terdapat lebih dari 450 sasaran strategis penting, termasuk sejumlah sasaran yang dicurigai sebagai tempat pengembangan program-senjata-nuklir. Banyak target keras atau jauh berada di bawah tanah dan tidak bisa dihancurkan oleh senjata konvensional, maka akan dihancurkan dengan opsi nuklir. Seperti dalam kasus Irak, respon ini kurang penting apakah Iran yang sesungguhnya terlibat dalam tindakan terorisme yang ditujukan terhadap Amerika Serikat. Beberapa pejabat senior Angkatan Udara yang terlibat dalam perencanaan dilaporkan terkejut terhadap implikasi dari apa yang akan mereka lakukan - bahwa Iran sedang disiapkan untuk sebuah serangan nuklir yang tak beralasan – namun tidak seorangpun siap untuk merusak karirnya dengan mengajukan keberatan." (Philip Giraldi, Deep Background,The American Conservative August 2005)
Keputusan untuk menargetkan Iran di
bawah TIRANNT adalah bagian dari proses perencanaan militer yang lebih
luas dari urutan operasi militer. Hal tersebut sudah dilakukan di bawah
pemerintahan Clinton, Pusat Komando Amerika Serikat (USCENTCOM) telah
menyusun "rencana medan perang", pertama untuk menyerang Irak dan
kemudian Iran. Akses terhadap minyak Timur Tengah adalah merupakan
tujuan strategis lain.
"Kepentingan dan tujuan keamanan nasional yang luas dinyatakan Presiden dalam Strategi Keamanan Nasional - National Security Strategy (NSS) dan Ketua Strategi Militer Nasional - National Military Strategy (NMS) membentuk dasar strategi medan perang Pusat Komando Amerika Serikat (NSS) mengarahkan pelaksanaan strategi penahanan ganda dari negara-negara nakal seperti Irak dan Iran selama negara-negara tersebut menjadi ancaman terhadap kepentingan Amerika Serikat, kepada negara-negara lain di wilayah ini, dan termasuk para warganegaranya. Penahanan ganda dirancang untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di wilayah itu tanpa tergantung baik kepada Iraq atau Iran. Strategi medan perang terhadap Iran yaitu USCENTCOM adalah merupakan interest-based dan threat-focused. Tujuan dari keterlibatan Amerika Serikat seperti yang dianut pada NSS, adalah untuk melindungi kepentingan vital Amerika Serikat di wilayah tersebut – supaya tidak terganggu, Amerika Serikat aman demikian juga akses Sekutu kepada minyak Teluk." (USCENTCOM, http://www.milnet.com/milnet/pentagon/centcom/chap1/stratgic.htm#USPolicy, link no longer active, archived at http://tinyurl.com/37gafu9)
Perang di Iran dipandang sebagai bagian
dari suksesi operasi militer. Menurut (mantan) Panglima NATO Jenderal
Wesley Clark, peta-jalan militer Pentagon terdiri dari urutan
negara-negara: "Rencana operasi militer lima tahun [termasuk] ... total
tujuh negara, dimulai dengan Irak, kemudian Suriah, Libanon, Libya,
Iran, Somalia dan Sudan." Dalam "Winning Modern Wars" (halaman 130)
Jenderal Clark menyatakan sebagai berikut:
Peran Israel"Ketika saya kembali melalui Pentagon pada bulan November 2001, salah seorang staf petugas senior militer punya waktu untuk bercakap-cakap. Ya, kami masih berada dalam jalur melawan Irak. Tapi masih ada lagi. Katanya hal ini sedang dibahas sebagai bagian dari rencana operasi militer lima tahun, dan jumlahnya ada tujuh negara, dimulai dengan Irak, lalu Suriah, Libanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan (See Secret 2001 Pentagon Plan to Attack Lebanon, Global Research, July 23, 2006)
Terdapat banyak perdebatan mengenai peranan Israel dalam memulai serangan terhadap Iran.
Israel merupakan bagian dari sebuah
aliansi militer. Tel Aviv bukanlah penggerak utama. Israel tidak
memiliki agenda militer yang terpisah dan berbeda.
Israel terintegrasi ke dalam "rencana
perang untuk operasi tempur besar" terhadap Iran yang dirumuskan pada
tahun 2006 oleh Komando Strategis Amerika Serikat (USSTRATCOM). Dalam
konteks operasi militer skala besar, suatu tindakan militer sepihak yang
tidak terkoordinasi oleh salah satu mitra koalisi, yaitu Israel, dari
sudut pandang militer dan strategis hampir mustahil. Israel secara de
facto anggota NATO. Setiap tindakan oleh Israel akan membutuhkan "lampu
hijau" dari Washington.
Sebuah serangan oleh Israel bagaimanapun
juga bisa digunakan sebagai "mekanisme pemicu" yang akan melancarkan
perang habis-habisan terhadap Iran, serta pembalasan oleh Iran yang
diarahkan kepada Israel.
Dalam hal ini, ada indikasi bahwa
Washington mungkin mempertimbangkan pilihan serangan awal Israel dengan
(dukungan Amerika Serikat) dan bukan sebuah operasi militer pimpinan
Amerika Serikat langsung diarahkan terhadap Iran. Serangan Israel -
meskipun hubungannya dekat dengan Pentagon dan NATO - akan disampaikan
kepada opini publik sebagai keputusan sepihak oleh Tel Aviv. Hal ini
kemudian akan digunakan oleh Washington untuk membenarkan di mata opini
Dunia, berupa intervensi militer Amerika Serikat dan NATO dengan maksud
untuk "mempertahankan Israel", daripada menyerang Iran. Dalam perjanjian
kerja sama militer yang ada, baik Amerika Serikat maupun NATO
"diwajibkan" untuk "membela Israel" bila diserang Iran dan Suriah.
Perlu dicatat, dalam hal ini, bahwa
pada awal masa jabatan kedua Bush, (mantan) Wakil Presiden Dick Cheney
mengisyaratkan, dengan tegas, bahwa Iran berada "paling atas dalam
daftar" dari "musuh nakal" Amerika, dan bahwa Israel akan menyatakan
"melakukan pemboman untuk kita", tanpa keterlibatan militer Amerika
Serikat dan tanpa kita menekan mereka "untuk melakukannya" (See Michel
Chossudovsky, Planned US-Israeli Attack on Iran, Global Research, May 1, 2005): Menurut Cheney:
"Salah satu kekhawatiran orang adalah bahwa Israel mungkin melakukannya tanpa diminta ... Mengingat fakta bahwa Iran memiliki kebijakan yang menyatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk menghancurkan Israel, Israel mungkin memutuskan untuk bertindak lebih awal, dan membiarkan seluruh dunia khawatir mengenai penyelesaian kekacauan diplomatik setelah itu, "(Dick Cheney, dikutip dari Wawancara MSNBC, Januari 2005)
Mengomentari pernyataan Wakil Presiden,
mantan penasehat Keamanan Nasional, Zbigniew Brzezinski dalam sebuah
wawancara di PBS, menegaskan dengan sedikit ketakutan pada sesuatu yang
akan terjadi, ya: Cheney menginginkan Perdana Menteri Ariel Sharon untuk
bertindak atas nama Amerika dan "melakukannya" untuk kita.
"Saya pikir Iran lebih ambigu. Dan ada masalah disana, tentu bukan tirani;.. itu adalah senjata nuklir. Dan Wakil Presiden hari ini dalam pernyataan paralel yang aneh terhadap pernyataan kebebasan ini yang mengisyaratkan bahwa Israel mungkin melakukannya, namun kenyataannya menggunakan bahasa yang terdengar seperti pembenaran atau bahkan suatu dorongan bagi Israel untuk melakukannya."
Apa yang berurusan dengan kita adalah
operasi militer bersama Amerika Serikat-NATO-Israel untuk membom Iran,
yang telah dalam tahap perencanaan aktif sejak tahun 2004. Pejabat
Departemen Pertahanan, di bawah Bush dan Obama, telah bekerja tekun
dengan militer Israel dan mitra-mitra intelijennya mengidentifikasi
dengan hati-hati sasaran di dalam wilayah Iran. Dalam istilah praktis
militer, setiap tindakan oleh Israel harus direncanakan dan
dikoordinasikan di tingkat tertinggi koalisi yang dipimpin Amerika
Serikat.
Serangan oleh Israel juga akan
memerlukan koordinasi dukungan logistik Amerika Serikat–NATO, khususnya
yang berkaitan dengan sistem pertahanan udara Israel, yang sejak Januari
2009 sepenuhnya terintegrasi ke dalam Amerika Serikat dan NATO. (See
Michel Chossudovsky, Unusually Large U.S. Weapons Shipment to Israel: Are the US and Israel Planning a Broader Middle East War? Global Research, January 11,2009)
Sistem radar X band Israel dibangun pada
awal tahun 2009 dengan dukungan teknis Amerika Serikat telah
"mengintegrasikan sistem pertahanan rudal Israel dengan jaringan deteksi
rudal global Amerika Serikat [Pangkalan-Ruang Angkasa], yang meliputi
satelit, kapal Aegis di Mediterania, Teluk Persia dan Laut Merah serta
Patriot radar dan yang berpangkalan di darat." (Defense Talk.com, January 6, 2009,)
Apakah ini berarti bahwa Washington
akhirnya memutuskan apa yang seharusnya dilakukan. Lebih baik Amerika
Serikat daripada Israel yang mengendalikan sistem pertahanan udara:'
‘ini artinya tetap dengan menggunakan sistem radar Amerika Serikat,’
"kata jurubicara Pentagon, Geoff Morrell. "Jadi ini bukan sesuatu yang
kita berikan atau menjualnya kepada Israel dan hal itu adalah sesuatu
yang wajar akan memerlukan personel Amerika Serikat untuk
mengoperasikannya.'" (Dikutip dari Israel National News, 9 Januari
2009).
Angkatan Udara Amerika Serikat
mengawasi sistem Pertahanan Udara Israel, yang terintegrasi ke dalam
sistem global Pentagon. Dengan kata lain, Israel tidak dapat melancarkan
perang terhadap Iran tanpa persetujuan Washington. Oleh karena
pentingnya undang-undang yang disebut "Green Light" di Kongres Amerika
Serikat yang disponsori oleh partai Republik di bawah Resolusi House
1553, yang secara eksplisit mendukung serangan Israel terhadap Iran:
"Undang-undang diajukan oleh Louie Gohmert, partai Republik dari Texas dan 46 rekannya, mendukung penggunaan “semua sarana yang diperlukan Israel" terhadap Iran "termasuk penggunaan kekuatan militer...."Kita harus melakukan ini. Kami perlu menunjukkan dukungan kepada Israel. Kita harus berhenti bermain game dengan sekutu penting di tengah wilayah yang sulit"’ (See Webster Tarpley, Fidel Castro Warns of Imminent Nuclear War; Admiral Mullen Threatens Iran; US-Israel Vs. Iran-Hezbollah Confrontation Builds On, Global Research, August 10, 2010)
Dalam praktek, undang-undang yang
diusulkan tersebut adalah "Green Light" kepada Gedung Putih dan Pentagon
daripada kepada Israel. Ini merupakan persetujuan untuk perang yang
disponsori Amerika Serikat melawan Iran yang menggunakan Israel sebagai
landasan melancarkan gerakan militer yang sesuai. Hal ini juga berfungsi
sebagai pembenar untuk berperang dengan tujuan untuk membela Israel.
Dalam konteks ini, Israel memang bisa
memberikan alasan palsu untuk berperang, sebagai tanggapan terhadap
dugaan serangan Hamas atau serangan Hizbullah dan/atau memicu permusuhan
di perbatasan Israel dengan Lebanon. Apa yang penting untuk dipahami
adalah bahwa sebuah "insiden" kecil dapat digunakan sebagai alasan untuk
memicu sebuah operasi militer besar terhadap Iran.
Peperangan Global: Peran Komando Strategis Amerika Serikat (USSTRATCOM)
Operasi militer global dikoordinasikan
dari Markas Komando Strategis Amerika Serikat (USSTRATCOM) dari
pangkalan Angkatan Udara Offutt di Nebraska, berkerja sama dengan
komando regional, Komando Pejuang Terpadu (misalnya Komando Sentral
Amerika Serikat di Florida, yang bertanggung jawab untuk Timur Tengah
-Tengah dan kawasan Asia, lihat peta di bawah) serta unit komando
koalisi di Israel, Turki, Teluk Persia dan Diego Garcia, yaitu pangkalan
militer Amerika Serikat di Samudera Hindia. Perencanaan Militer dan
pengambilan keputusan di tingkat negara sekutu Amerika Serikat-NATO yang
dilakukan oleh individu juga "negara-negara mitra" diintegrasikan ke
dalam desain militer global termasuk mempersenjatai ruang angkasa.
Di bawah mandat baru, USSTRATCOM
memiliki tanggung jawab untuk "mengawasi rencana serangan global" yang
terdiri dari senjata konvensional dan nuklir. Dalam jargon militer, yang
dijadwalkan untuk memainkan peran adalah "sebuah integrator global
dengan beban misi Operasi Ruang Angkasa; Operasi Informasi; Pertahanan
Rudal Terpadu; Komando Global & Pengendalian; Intelijen,
Surveillance dan Reconnaissance; Global Strike; dan Strategic
Deterrence.... "
Tanggungjawab USSTRATCOM meliputi:
"Memimpin, perencanaan, pelaksanaan strategis & operasi pencegahan "
di tingkat global, "sinkronisasi rencana operasi dan pertahanan rudal
global", "sinkronisasi rencana perang regional", dll. USSTRATCOM
merupakan lembaga utama dalam mengkoordinasikan peperangan modern .
Pada bulan Januari 2005, pada awal
pengerahan dan pembangunan militer yang ditujukan kepada Iran,
USSTRATCOM diidentifikasi sebagai "Komando Peramg untuk integrasi dan
sinkronisasi Departemen Pertahanan Amerika Serikat dalam upaya memerangi
senjata pemusnah massal." (Michel Chossudovsky, Nuclear War against Iran, Global Research, January 3, 2006).
Apakah ini berarti bahwa koordinasi
serangan yang berskala besar terhadap Iran, termasuk berbagai skenario
eskalasi di dalam dan di luar wilayah Timur Tengah serta yang lebih luas
Asia Tengah akan dikoordinasikan oleh USSTRATCOM.
Map: US Central Command's Area of Jurisdiction
Senjata-senjata Nuklir Taktis Diarahkan Langsung Kepada Iran
Dikonfirmasi dengan dokumen militer
serta laporan resmi, baik Amerika Serikat maupun Israel memikirkan
penggunaan senjata nuklir yang diarahkan terhadap Iran. Pada tahun 2006,
Komando Strategis Amerika Serikat (USSTRATCOM) mengumumkan bahwa
pihaknya telah mencapai kemampuan operasional untuk mentargetkan sasaran
secara cepat dengan menggunakan senjata nuklir atau sebjata
konvensional ke seluruh dunia. Pengumuman ini dibuat setelah melakukan
simulasi militer yang berkaitan dengan serangan nuklir yang dipimpin
Amerika Serikat terhadap negara fiktif. (David Ruppe, Preemptive Nuclear War in a State of Readiness: U.S. Command Declares Global Strike Capability, Global Security Newswire, December 2, 2005)
Kesinambungan dalam hubungannya dengan
era Bush-Cheney: Presiden Obama telah mendukung sebagian besar doktrin
pre-emptive penggunaan senjata nuklir yang dirumuskan oleh pemerintahan
sebelumnya. Di bawah the 2010 Nuclear Posture Review, pemerintahan Obama
menegaskan "bahwa itu merupakan pesan berupa hak untuk menggunakan
senjata nuklir terhadap Iran" sebagai risiko ketidak-kepatuhan Iran
terhadap tuntutan Amerika Serikat mengenai program dugaan (tidak ada)
senjata nuklir. (U.S. Nuclear Option on Iran Linked to Israeli Attack Threat - IPS ipsnews.net,
April 23, 2010). Pemerintahan Obama juga mengisyaratkan bahwa mereka
akan menggunakan nuklir dalam hal Iran merespon atas serangan Israel
kepada Iran. (Ibid). Israel juga membuat sendiri "rencana rahasia" untuk
membom Iran dengan senjata nuklir taktis.
Sumber-sumber senior mengatakan ""Komandan militer Israel yakin serangan konvensional mungkin tidak lagi cukup untuk memusnahkan fasilitas pengayaan yang semakin baik dipertahankan. Beberapa telah dibangun di bawah tanah minimal 70 kaki dari beton dan batu. Namun, the nuclear-tipped bunker-busters akan digunakan hanya jika serangan konvensional dikesampingkan dan jika Amerika Serikat menolak untuk campur tangan."(Revealed: Israel plans nuclear strike on Iran - Times Online, January 7, 2007)
Pernyataan Obama tentang penggunaan
senjata nuklir terhadap Iran dan Korea Utara konsisten dengan doktrin
senjata nuklir Amerika Serikat pasca 9/11 yang memungkinkan untuk
penggunaan senjata nuklir taktis di medan perang konvensional.
Melalui kampanye propaganda yang telah
meminta dukungan dari “otoritatif” ilmuwan nuklir, senjata nuklir mini
itu didukung sebagai instrumen perdamaian, yaitu sarana untuk memerangi
"terorisme Islam" dan mengukuhkan "demokrasi" gaya Barat di Iran. Nuklir
low-yield telah dibersihkan untuk "digunakan di medan perang".
Senjata nuklir tersebut dijadwalkan akan digunakan Amerika terhadap
Iran dan Suriah dalam tahap berikutnya, disamping senjata konvensional
dalam "perang melawan Terorisme".
"Para pejabat pemerintah menyatakan bahwa senjata nuklir low-yield diperlukan sebagai pencegah yang kredibel terhadap negara-negara nakal [Iran, Suriah, Korea Utara] logika mereka adalah bahwa senjata nuklir yang ada terlalu destruktif untuk digunakan kecuali dalam perang nuklir yang berskala penuh. Musuh-musuh potensial menyadari hal ini, sehingga mereka tidak memperhitungkan ancaman pembalasan nuklir dapat dipercaya Namun, senjata-senjata low-yield kurang daya merusaknya, sehingga dapat dipikirkan untuk digunakan. Dengan demikian akan menjadikan mereka lebih efektif sebagai senjata penangkal." (Opponents Surprised By Elimination of Nuke Research Funds Defense News November 29, 2004)
Pemilihan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran berupa senjata nuklir taktis (Buatan Amerika), yaitu bunker buster bom dengan hulu ledak nuklir (misalnya B61-11),
dengan kapasitas peledak antara sepertiga sampai enam kali bom
Hiroshima. The B61-11 adalah "versi nuklir" dari "konvensional" BLU 113 atau Unit Pemandu Bom GBU-28.. Bom ini dapat dibawa dengan cara yang sama seperti bunker buster bom konvensional. (See Michel Chossudovsky, http://www.globalresearch.ca/articles/CHO112C.html, see also http://www.thebulletin.org/article_nn.php?art_ofn=jf03norris).
Sementara Amerika Serikat tidak bermaksud menggunakan senjata
termonuklir strategis terhadap Iran, sebagian besar penyebaran senjata
nuklir Israel terdiri dari bom termonuklir dan dapat digunakan dalam
perang dengan Iran. Dengan sistem rudal Jericho-III Israel yang
jangkauannya berkisar antara 4.800 km sampai 6.500 km, maka semua
wilayah Iran akan berada dalam jangkauannya.
Conventional bunker buster Guided Bomb Unit GBU-27
B61 bunker buster bomb
Jatuhan Radioaktif
Persoalan jatuhan radioaktif dan kontaminasi, meski begitu saja dikesampingkan oleh analis militer Amerika Serikat-NATO, dampaknya akan menghancurkan, berpotensi merusak wilayah yang luas di Timur Tengah (termasuk Israel) dan wilayah Asia Tengah.
Persoalan jatuhan radioaktif dan kontaminasi, meski begitu saja dikesampingkan oleh analis militer Amerika Serikat-NATO, dampaknya akan menghancurkan, berpotensi merusak wilayah yang luas di Timur Tengah (termasuk Israel) dan wilayah Asia Tengah.
Dengan logika yang diplintir,
senjata nuklir disajikan sebagai sarana untuk membangun perdamaian dan
mencegah "kerusakan kolateral". Tidak ada senjata nuklir Iran apalagi
merupakan ancaman bagi keamanan global, sebaliknya Amerika Serikat dan
Israel adalah instrumen perdamaian yang "tidak membahayakan bagi
penduduk sipil di sekitarnya".
“Ibu Dari Semua Bom” "The Mother of All Bombs" (MOAB) Dijadwalkan Digunakan Terhadap Iran
Signifikansi militer senjata
konvensional dalam angkatan bersenjata Amerika adalah 21.500-pon
"senjata rakasa" dijuluki "ibu dari semua bom" The GBU-43/B or Massive Ordnance Air Blast bomb (MOAB)
dikategorikan "sebagai senjata non-nuklir paling kuat yang pernah
dirancang" diketahui sebagai arsenal konvensional terbesar di Amerika
Serikat. MOAB diuji pada awal Maret 2003 sebelum dikirim ke medan
perang Irak. Menurut sumber-sumber militer Amerika Serikat, Kepala Staf
Gabungan telah memberitahu pemerintah Saddam Hussein sebelum
diluncurkan tahun 2003 bahwa "ibu dari semua bom" akan digunakan
terhadap Irak. (Ada laporan yang belum dikonfirmasi bahwa MOAB telah
digunakan di Irak).
Departemen Pertahanan Amerika Serikat
telah mengkonfirmasi pada bulan Oktober 2009 bahwa bermaksud untuk
menggunakan "Ibu dari semua Bom" (MOAB) terhadap Iran. Dikatakannya MOAB
"ideal untuk mengubur fasilitas nuklir seperti Natanz atau Qom di Iran"
(Jonathan Karl, Is the U.S. Preparing to Bomb Iran?
ABC News, October 9, 2009). Kebenaran dari masalah ini adalah bahwa
MOAB, karena mengingat daya ledaknya tersebut, akan mengakibatkan korban
sipil yang sangat besar. Ini adalah "mesin pembunuh" konvensional
dengan jenis awan jamur nuklir.
Pengadaan empat MOAB ditugaskan pada
bulan Oktober 2009 dengan biaya yang cukup besar sejumlah US$,58,4 juta
($ 14,6 juta untuk masing-masing bom). Jumlah ini termasuk untuk
membiaya pengembangan dan pengujian serta integrasi bom MOAB ke pembom
siluman B-2. (ibid). pengadaan ini berkaitan langsung dengan persiapan
perang dalam hubungannya dengan Iran. Pemberitahuan dimuat dalam sebuah
"reprogramming memo" setebal 93 halaman termasuk instruksi berikut ini:
"Departemen memiliki sebuah Urgent
Operational Need (UON) yang berkemampuan menyerang sasaran keras di
daerah yang tinggi tingkat ancamannya dan sekaligus menguburkannya. MOP
[Ibu Segala Bom] adalah senjata pilihan yang memenuhi persyaratan UON
[Urgent Operational Need]." Dinyatakan lebih lanjut bahwa permintaan
tersebut didukung oleh Komando Pasifik (yang memiliki tanggung jawab
atas Korea Utara) dan Komando Sentral (yang memiliki tanggung jawab atas
Iran). (ABC News, op cit, emphasis added). To consult the
reprogramming request (pdf) di sini
Pentagon merencanakan sebuah proses
kehancuran infrastruktur Iran dan korban massal sipil melalui penggunaan
gabungan nuklir taktis dan bom konvensional rakasa awan jamur, termasuk
MOAB dan yang lebih besar lagi yaitu GBU-57a/B atau Massive Ordnance
Penetrator (MOP), yang melampaui MOAB dalam hal kapasitas daya ledaknya.
MOP digambarkan sebagai "sebuah bom baru
yang kuat dan tepat sasaran untuk menghantam fasilitas nuklir bawah
tanah Iran dan Korea Utara. Bom raksasa yang ukuran panjangnya lebih
dari 11 orang duduk berdempetan bahu-ke-bahu [lihat gambar di bawah]
atau lebih dari 20 kaki dari lantai ke hidung" (See Edwin Black, "Super Bunker-Buster Bombs Fast-Tracked for Possible Use Against Iran and North Korea Nuclear Programs",
Ini adalah WMD dalam artian yang
sebenarnya dari kata tersebut. Tujuannya tidak begitu tersembunyi dari
MOAB dan MOP, termasuk penggunaan nama julukan Amerika untuk
menggambarkan secara sederhana bahwa MOAB ("ibu dari semua bom'), adalah
"pemusnah massal" dan korban sipil secara massal dengan maksud untuk
menanamkan rasa takut dan putus asa.
"Mother of All Bombs" (MOAB)
GBU-57A/B Mass Ordnance Penetrator (MOP)
MOAB: screen shots of test: explosion and mushroom cloud
Teknologi Persenjataan Tercanggih: “Perang Menjadi Mungkin Dengan Teknologi Baru”
Proses pengambilan keputusan militer
Amerika Serikat dalam hubungannya dengan Iran ini didukung oleh Star
Wars, militerisasi ruang angkasa dan revolusi dalam komunikasi serta
sistem informasi. Mengingat kemajuan teknologi militer dan pengembangan
sistem senjata baru, serangan terhadap Iran bisa secara signifikan
berbeda dalam hal campuran sistem senjata, bila dibandingkan dengan
Blitzkrieg yang dilancarkan pada bulan Maret 2003 terhadap Irak. Operasi
militer terhadap Iran dijadwalkan untuk menggunakan sistem senjata yang
paling canggih untuk mendukung serangan udara tersebut. Dan dalam semua
kemungkinan, sistem senjata baru akan diuji.
Dokumen The 2000 Project of the New American Century - Proyek Tahun 2000 Abad Baru Amerika yang berjudul Rebuilding American Defenses
- Membangun Kembali Pertahanan Amerika, menguraikan mandat militer
Amerika Serikat dalam hal medan perang berskala besar, yang akan
dilancarkan secara bersamaan di berbagai wilayah Dunia:
"Memenangkan Beberapa pertempuran dengan meyakinkan secara simultan dalam beberapa medan perang.”
Formulasi ini serupa dengan penaklukan
perang global oleh kekaisaran adidaya tunggal. Dokumen PNAC juga
menyerukan transformasi pasukan Amerika Serikat untuk mengeksploitasi
"revolusi dalam urusan militer", yaitu penerapan "perang yang
dimungkinkan melalui teknologi baru" (See Project for a New American
Century, Rebuilding Americas Defenses Washington
DC, September 2000, pdf). Yang terakhir ini terdiri dari pengembangan
dan penyempurnaan kecanggihan mesin pembunuh global berdasarkan gudang
persenjataan baru yang canggih, yang pada akhirnya akan menggantikan
paradigma yang ada.
"Dengan demikian, dapat diramalkan bahwa proses transformasi justru akan menjadi proses dua-tahap:. Pertama transisi, yaitu transformasi yang lebih menyeluruh. Titik nyaman akan datang ketika jumlah yang lebih besar sistem senjata baru mulai memasuki masa tugasnya, mungkin ketika, misalnya, pesawat udara tak berawak mulai banyak menjadi biasa seperti pesawat berawak. Dalam hal ini, Pentagon harus sangat berhati-hati melakukan investasi besar dalam program-program baru misalnya -. tank, pesawat, kapal induk, - dimana pasukan Amerika Serikat akan berkomitmen melakukan paradigma baru untuk berperang selama beberapa dekade yang akan datang. (ibid, penekanan ditambahkan)
Perang dengan Iran memang bisa menandai breakpoint
penting ini, dengan sistem senjata baru yang berpangkalan-di angkasa
dipergunakan dengan maksud untuk melumpuhkan musuh yang memiliki
kemampuan konvensional militer yang signifikan yang jumlahnya lebih dari
setengah juta pasukan darat.
Senjata elektromagnetik dapat digunakan
untuk mengacaukan sistem komunikasi Iran, menonaktifkan pembangkit
tenaga listrik, merusak dan mengacaukan komando serta kontrol,
infrastruktur pemerintah, transportasi, energi, dll. Dalam keluarga
senjata yang sama, teknik modifikasi lingkungan (ENMOD) (peperangan
cuaca) yang dikembangkan berdasarkan program HAARP juga bisa diterapkan.
(Lihat Chossudovsky Michel, "Owning the Weather" for Military Use,,
Global Research, September 27, 2004). Sistem senjata ini sepenuhnya
operasional. Dalam konteks ini, dokumen Angkatan Udara Amerika Serikat
AF 2025 secara eksplisit membenarkan aplikasi militer dengan teknologi
modifikasi cuaca.
"Modifikasi Cuaca akan menjadi bagian dari keamanan domestik dan internasional dan bisa dilakukan secara sepihak ... Senjata ini bisa aplikasikan baik secara ofensif maupun defensif dan bahkan dapat digunakan untuk tujuan pencegahan. Senjata ini berkemampuan untuk menghasilkan curah hujan, kabut, dan badai di bumi atau mengubah ruang cuaca, meningkatkan komunikasi melalui modifikasi ionosfir (penggunaan cermin ionosfir), serta produksi cuaca buatan, yang kesemuanya itu merupakan bagian dari serangkaian teknologi terpadu yang dapat memberikan peningkatan penting dalam kemampuan Amerika Serikat atau dalam menundukkan musuh, juga untuk mencapai kesadaran global, jangkauan, dan kekuasaan. " (Air Force 2025 Final Report, See also US Air Force: Weather as a Force Multiplier: Owning the Weather in 2025, AF2025 v3c15-1 | Weather as a Force Multiplier: Owning... | (Ch 1) at www.fas.org).
Radiasi elektromagnetik memungkinkan
melakukan "gangguan kesehatan dari jarak jauh" mungkin juga dipikirkan
untuk digunakan dalam medan perang. (See Mojmir Babacek, Electromagnetic and Informational Weapons:,
Global Research, August 6, 2004). Pada gilirannya, penggunaan baru
senjata biologis oleh militer Amerika Serikat juga mungkin akan
dipertimbangkan seperti yang disarankan oleh PNAC: "Lebih lanjut bentuk
peperangan biologis dapat "mentargetkan" genotipe tertentu yang mungkin
mengubah perang biologis dari dunia teror menjadi alat politik yang
berguna." (PNAC cit, op, hal. 60).
Kemampunan Militer Iran: Misil Jarak Menengah dan Jauh
Kemampuan militer Iran telah maju,
termasuk misil jarak menengah dan jauh yang mampu mencapai sasaran di
Israel dan negara-negara Teluk. Karena itu perhatian aliansi Amerika
Serikat-NATO Israel pada penggunaan senjata nuklir, yang dijadwalkan
akan digunakan baik secara pre-emptive maupun sebagai respons pembalasan
terhadap serangan rudal Iran.
Range of Iran's Shahab Missiles. Copyright Washington Post
Pada bulan November 2006, Iran
menguji-coba rudal permukaan 2 yang diputuskan bertahap dengan operasi
perencanaan yang tepat dan hati-hati. Menurut seorang ahli rudal senior
Amerika (dikutip oleh Debka), "Iran memperlihatkan up-to-date teknologi
peluncur-rudal dimana Barat tidak mengetahui bahwa Iran memilikinya."
(See Michel Chossudovsky, Iran's "Power of Deterrence"
Global Research, November 5, 2006) Israel acknowledged that "the
Shehab-3, whose 2,000-km range brings Israel, the Middle East and Europe
within reach" (Debka, November 5, 2006)
Menurut Uzi Rubin, mantan kepala program
misil anti-balistik Israel, bahwa "intensitas latihan militer belum
pernah terjadi sebelumnya ... Hal itu dimaksudkan untuk membuat kesan -
dan berhasil membuat kesan." (www.cnsnews.com 3 November 2006)
Latihan tahun 2006, sekaligus
menciptakan sebuah gelora politik di Amerika Serikat dan Israel, dengan
cara apa pun tidak mengubah keputusan Amerika Serikat-NATO-Israel untuk
melancarkan perang terhadap Iran.
Teheran telah menegaskan dalam beberapa
pernyataannya bahwa Iran akan merespon jika diserang. Israel akan
menjadi tujuan langsung dari serangan rudal Iran seperti ditegaskan oleh
pemerintah Iran. Oleh karena itu persoalan sistem pertahanan udara
Israel penting. Amerika Serikat dan fasilitas militer sekutu di
negara-negara Teluk seperti Turki, Arab Saudi, Afghanistan dan Irak juga
bisa menjadi sasaran target Iran.
Angkatan Darat Iran
Sementara wilayah Iran dikelilingi oleh
pangkalan militer Amerika Serikat dan sekutu, Republik Islam Iran
memiliki kemampuan militer yang signifikan. (Lihat peta di bawah). Apa
yang penting untuk diakui adalah jumlah kekuatan angkatan bersenjata
Iran yang dilihat semata-mata dari segi jumlah personil (angkatan darat,
angkatan laut dan angkatan udara) jika dibandingkan dengan pasukan
Amerika Serikat dan NATO yang bertugas di Afghanistan dan Irak.
Menghadapi sebuah pemberontakan yang
terorganisir, pasukan koalisi sudah kewalahan di Afghanistan dan Irak.
Apakah kekuatan ini mampu mengatasi jika pasukan darat Iran memasuki
medan perang yang ada di Irak dan Afghanistan? Potensi gerakan
perlawanan terhadap Amerika Serikat dan sekutu pendudukan pasti akan
terpengaruh.
Pasukan darat Iran adalah 700.000 orang,
sejumlah 130.000 orang adalah tentara profesional, 220.000 wajib
militer dan 350.000 tentara cadangan. (See Islamic Republic of Iran Army - Wikipedia).
Ada 18.000 personil Angkatan Laut dan 52.000 angkatan udara Iran.
Menurut International Institute for Strategic Studies, Iran "memiliki
Pengawal Revolusi yang diperkirakan berjumlah 125.000 personil dalam
lima angkatan: Mereka punya Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Pasukan
Darat sendiri serta Pasukan Quds (Pasukan Khusus)" Menurut CISS, Basij
yaitu sukarelawan paramiliter Iran diperkirakan berkekuatan 90.000
orang berseragam aktif bertugas dan dikontrol oleh Pengawal Revolusi,
300.000 cadangan, dan total 11 juta orang yang dapat dimobilisasi jika
diperlukan" (Armed Forces of the Islamic Republic of Iran - Wikipedia).
Dengan kata lain, Iran bisa memobilisasi sampai setengah juta pasukan
reguler dan beberapa juta milisi. Pasukan khusus Quds sudah beroperasi
di Irak.
US Military and Allied Facilties Surrounding Iran
Dalam beberapa tahun ini Iran telah
melakukan latihan-latihan perang sendiri. Sementara Angkatan Udaranya
memiliki kelemahan, namun rudal jarak menengah dan jauh sepenuhnya
operasional. Militer Iran dalam keadaan siap-siaga. Pemusatan pasukan
Iran saat ini berada dalam jarak beberapa kilometer dari perbatasan Irak
dan Afghanistan, dan dekat perbatasan Kuwait. Angkatan Laut Iran
dikerahkan ke Teluk Persia dengan jarak yang dekat kepada fasilitas
militer Amerika Serikat dan sekutu di Uni Emirat Arab.
Perlu dicatat bahwa dalam menanggapi
peningkatan jumlah besar militer Iran, Amerika Serikat telah mengirim
senjata kepada sekutu non-anggota NATO di Teluk Persia termasuk Kuwait
dan Arab Saudi.
Sementara senjata canggih Iran tidak
sebanding dengan Amerika Serikat dan NATO, pasukan Iran berada dalam
posisi untuk menimbulkan kerugian besar terhadap pasukan koalisi dalam
sebuah medan perang konvensional, di wilayah Irak atau Afghanistan.
Pasukan darat Iran dan tank pada bulan Desember 2009 melintasi
perbatasan masuk ke wilayah Irak tanpa dihadapi atau ditantang oleh
pasukan sekutu dan menduduki wilayah sengketa di ladang minyak Maysan
Timur.
Bahkan di saat terjadi Blitzkrieg yang
efektif, dengan menargetkan fasilitas militer Iran, sistem komunikasinya
dll melalui pemboman udara besar-besaran, dengan menggunakan rudal
jelajah, bom bunker buster konvensional dan senjata nuklir taktis,
perang dengan Iran, sekali dimulai, akhirnya bisa mengarah menjadi
perang darat. Ini merupakan sesuatu hal dimana perencana militer Amerika
Serikat tidak ragu-ragu bahwa hal tersebut seperti yang dimaksudkan
dalam skenario simulasi perang mereka.
Jenis operasi ini akan mengakibatkan korban militer dan sipil yang signifikan, terutama jika menggunakan senjata nuklir.
Anggaran yang membengkak untuk membiayai
perang di Afghanistan saat ini diperdebatkan di Kongres Amerika Serikat
juga dimaksudkan untuk digunakan dalam kemungkinan serangan terhadap
Iran.
Dalam skenario eskalasi, pasukan Iran dapat menyeberang ke perbatasan Irak dan Afghanistan.
Pada gilirannya, eskalasi militer dengan
menggunakan senjata nuklir bisa membawa kita ke dalam sebuah skenario
Perang Dunia III, meluas di luar kawasan Timur Tengah Asia Tengah.
Dalam arti yang sangat nyata, proyek
militer ini, yang telah di gambarkan Pentagon selama lebih dari lima
tahun, mengancam masa depan kemanusiaan.
Sementara kami memfokuskan tulisan ini
terhadap persiapan perang. Faktanya bahwa persiapan perang telah
sempurna dan dalam keadaan siap, namun tidak berarti bahwa mereka akan
melakukannya sesuai dengan rencana.
Aliansi Amerika Serikat-NATO-Israel
menyadari bahwa musuh memiliki kemampuan yang signifikan untuk merespon
dan membalas. Faktor ini sendiri penting selama lima tahun terakhir
dalam mengambil keputusan, baik oleh Amerika Serikat maupun sekutunya
untuk menunda serangan terhadap Iran.
Faktor penting lainnya adalah kerangka
aliansi militer. Sementara NATO telah menjadi kekuatan yang tangguh,
Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO), yang merupakan aliansi antara Rusia
dan Cina dan sejumlah negara mantan republik Sovyet melemah secara
signifikan.
Ancaman militer Amerika Serikat secara
terus-menerus yang langsung ditujukan kepada Cina dan Rusia, dimaksudkan
untuk melemahkan SCO dan mencegah segala bentuk aksi militer sebagai
pihak sekutu yang akan membela Iran, dalam hal terjadinya serangan
NATO-Amerika Serikat-Israel.
Kekuatan seimbang apa yang mungkin dapat
mencegah perang ini terjadi? Ada banyak kekuatan-kekuatan di dalam
aparatur Negara Amerika Serikat yang sedang bekerja langsung, baik
Kongres maupun Pentagon dan NATO.
Kekuatan sentral dalam mencegah
terjadinya perang pada akhirnya secara mendasar datang dari dalam
masyarakat yang dengan penuh kekuatan melakukan tindakan menentang
antiperang oleh ratusan juta orang di seluruh negeri, baik nasional
maupun internasional.
Rakyat harus memobilisir tidak hanya
terhadap agenda militer jahat, namun juga harus menentang terhadap
otoritas Negara dan para pejabatnya.
This war can be prevented if people
forcefully confront their governments, pressure their elected
representatives, organize at the local level in towns, villages and
municipalities, spread the word, inform their fellow citizens as to the
implications of a nuclear war, initiate debate and discussion within the
armed forces.
Perang ini dapat dicegah jika rakyat
bersikap tegas dalam menghadapi pemerintah mereka, memberikan tekanan
kepada wakil yang dipilih oleh mereka, mengorganisir di tingkat lokal di
perkotaan dan pedesaan, menyebarkan berita, menginformasikan sesama
warga mengenai implikasi perang nuklir, memulai debat dan diskusi dalam
upaya mencegah perang di dalam angkatan bersenjata.
Tidak cukup hanya dengan
menyelenggaraan demonstrasi massa dan protes antiperang. Apa yang
diperlukan adalah pengembangan jaringan akar rumput antiperang yang luas
dan terorganisir dengan baik yang menantang struktur otoritas dan
kekuasaan.
Apa yang diperlukan adalah gerakan
massa rakyat yang kuat menentang legitimasi perang, gerakan masyarakat
global yang menyadari bahwa perang merupakan sebuah kejahatan.
Michel Chossudovsky
seorang penulis pemenang penghargaan, Profesor Ekonomi (Emeritus) pada
Universitas Ottawa dan Direktur dari the Centre for Research on
Globalization (CRG), Montreal. Ia menulis buku berjudul The
Globalization of Poverty and The New World Order (2003) dan America’s
“War on Terrorism” (2005). Ia juga seorang kontributor the Encyclopaedia
Britannica. Tulisan-tulisannya telah diterbitkan dalamlebih dari
duapuluh bahasa. Ia dapat dihubungi di globalresearch.ca website
Catatan Penulis: Pembaca budiman,
silakan sebarkan tulisan ini secara luas ke teman-teman dan keluarga,
forum internet, tempat kerja, di lingkungan Anda, nasional dan
internasional, dengan maksud untuk membalikkan gelombang perang.
Perang Amerika & Israel vs Iran, Siapa yang Menang?
Presiden Rusia Vladimir Putin berkunjung ke Timur Tengah untuk
mencegah kawasan ini jatuh ke konflik yang lebih dalam yang bisa
berujung dengan peperangan dan kehancuran. Situasi Timur Tengah semakin
memanas setelah Suriah menembak pesawat tempur F 4 Turki yang nota bene
anggota NATO. Turki pun mendesak NATO untuk membahas penembakan
pesawatnya oleh Suriah. Apakah pesawat tempur tua Turki dikorbankan
untuk tujuan yang sangat besar ?.
Israel yang terus berkoar-koar akan menyerang Iran, membuat Vladimir
Putin pusing, karena Israel seakan tidak perdulu konsekuensinya.
Sebelumnya Putin sudah pernah mengingatkan, jika Israel menyerang Iran
maka keputusan itu akan menyebabkan kehancuran.
Vladimir Putin melakukan pembicaraan dengan Menlu Avignor Lieberman,
Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Setelah
itu Putin akan berkunjung ke negara-negara Timur Tengah lainnya.
| Menlu Israel Lieberman sambut Putin di Ben Guryon Airport 25/06/ 2012 |
Permainan politik tingkat tinggi sedang dimainkan oleh Amerika Serikat
dan Israel di Timur Tengah tampaknya telah diendus oleh Vladimir Putin.
Israel dan AS sedang merencanakan latihan perang terbesar sepanjang
sejarah kerja sama militer kedua negara. Latihan bersama itu akan
digelar Oktober mendatang dengan melibatkan ribuan tentara.
The Times of Israel, Senin (25/06) melansir, seorang petinggi militer
AS, Letjen Craig A Franklin, telah membentuk Komite Representatif untuk
membahas lebih lanjut rencana latihan militer itu dalam kunjungannya ke
Israel beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, AS disebut setuju
untuk melibatkan 3.000 personel militer mereka.
Salah satu kegiatan yang dijadwalkan dalam latihan adalah, simulasi
serangan dari pihak luar ke wilayah Israel. Dalam simulasi, Israel akan
diserang ratusan roket dari Iran dan Suriah pada waktu yang bersamaan.
Israel akan mempertunjukkan versi terbaru sistem pertahanan Arrow 2.
Sedangkan AS akan membawa sistem pertahanan anti-roket balistik Aegis
dan pertahanan anti-serangan udara PAC-3 Patriot. Latihan bersama ini
memberi sinyal kepada Iran bahwa AS dan Israel akan segera menerapkan
tindakan militer setelah sanksi ekonomi atas program nuklirnya tidak
digubris.
Mari kita kilas balik, bagaiamana Michel Chossudovsky membedah
skenario penyerangan AS ke Iran, yang melibatkan NATO dan Israel.
Menurut Chossudovsky, penimbunan dan penyebaran sistem senjata canggih
yang diarahkan terhadap Iran dimulai setelah pengeboman dan invasi ke
Irak tahun 2003. Sejak awal, rencana perang ini dipimpin oleh AS
bekerjasama dengan NATO dan Israel.
Setelah invasi Irak tahun 2003, pemerintahan Bush mengidentifikasi
Iran dan Suriah sebagai tahapan berikutnya dari "peta jalan untuk
perang". Sumber-sumber militer AS mengisyaratkan serangan udara terhadap
Iran bisa melibatkan penyerangan berskala besar sebanding dengan
serangan AS "shock and awe" di Irak tahun 2003.
| Operasi Militer Shock and Awe, Baghdad 2003. |
"Serangan udara Amerika terhadap Iran akan jauh melebihi jangkauan
serangan Israel tahun 1981 ke pusat nuklir Irak di Osiraq dan lebih
menyerupai hari pertama serangan udara tahun 2003 melawan Irak (See
Globalsecurity). "Theater Iran Near Term" (TIRRANT).
Nama kode yang diberikan perencana militer AS adalah TIRANNT,
"Theater Iran Near Term", simulasi serangan terhadap Iran telah dimulai
pada Mei tahun 2003 "ketika pemodel dan spesialis intelijen mengumpulkan
data yang diperlukan untuk tingkat-medan perang berskala besar
(analisis skenario bagi Iran)." ((William Arkin, Washington Post, 16
April 2006).
Skenarionya mengidentifikasikan beberapa ribu sasaran di wilayah Iran sebagai bagian dari "Shock and Awe" Blitzkrieg:
"Analisis yang disebut TIRANNT "Theater Iran Near Term," masih
ditambah dengan skenario tiruan invasi Korps Marinir dan simulasi
kekuatan rudal Iran. Dalam waktu yang bersamaan para perencana AS dan
Inggris melakukan sebuah permainan perang Laut Kaspia. Bush mengarahkan
Komando Strategis AS untuk menyusun rencana serangan perang global untuk
menyerang lokasi senjata pemusnah massal Iran. Semua ini akhirnya akan
menjadi masukan berupa rencana perang baru untuk "major combat
operations" terhadap Iran yang sudah dikonfirmasikan oleh sumber militer
[April 2006] dalam bentuk draft.
"Di bawah TIRANNT, Angkatan Darat dan Perencana Pusat Komando AS
telah melakukan pemeriksaan, baik skenario jangka pendek maupun jangka
panjang perang dengan Iran, termasuk semua aspek operasi tempur utama,
dari mobilisasi dan pengerahan pasukan melalui operasi stabilitas pasca
perang setelah terjadi perubahan rezim. " (William Arkin, Washington
Post, 16 April 2006).
Perbedaan "Skenario medan perang" dalam menyerang Iran secara
maksimal telah dipikirkan: "Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan
Udara dan Marinir Amerika Serikat telah memiliki semua rencana
pertempuran yang disusun selama empat tahun, membangun
pangkalan-pangkalan dan pelatihan untuk melaksanakan "Operasi Pembebasan
Iran." Laksamana Fallon, Kepala Pusat Komando Amerika Serikat yang baru
telah menerima rencana komputerisasi TIRANNT (Teater Iran Near Term)."
(New Statesman, 19 Februari 2007).
Pada tahun 2004, dirumuskan skenario perang awal di bawah TIRANNT,
Wakil Presiden Dick Cheney menginstruksikan USSTRATCOM untuk menyusun
sebuah "rencana darurat" operasi militer berskala besar yang diarahkan
terhadap Iran "digunakan dalam merespon terhadap serangan teroris
sejenis 9/11 di Amerika Serikat" dengan anggapan bahwa pemerintah
Teheran berada di belakang persekongkolan teroris. Rencana tersebut
termasuk penggunaan pre-emptive senjata nuklir terhadap negara
non-nuklir.
"Rencana ini termasuk serangan udara besar-besaran terhadap Iran baik
menggunakan senjata nuklir maupun konvensional dan taktis. Di Iran
terdapat 450 lebih sasaran strategis penting, termasuk sejumlah sasaran
yang dicurigai tempat pengembangan program-senjata-nuklir. Banyak target
keras atau jauh berada di bawah tanah dan tidak bisa dihancurkan oleh
senjata konvensional, akan dihancurkan dengan opsi nuklir. Seperti dalam
kasus Irak, respon ini kurang penting apakah Iran yang sesungguhnya
terlibat dalam tindakan terorisme yang ditujukan terhadap AS. Beberapa
pejabat senior Angkatan Udara yang terlibat dalam perencanaan dilaporkan
terkejut terhadap implikasi dari apa yang akan mereka lakukan – bahwa
Iran sedang disiapkan untuk sebuah serangan nuklir yang tak beralasan –
namun tidak seorangpun siap untuk merusak karirnya dengan mengajukan
keberatan." (Philip Giraldi, Deep Background,The American Conservative
August 2005).
| Markas Militer Parchin dekat Teheran |
The Military Road Map: Pertama Irak, kemudian Iran"
Keputusan untuk menargetkan Iran di bawah TIRANNT adalah bagian dari proses perencanaan militer yang lebih luas dari urutan operasi militer. Hal ini sudah dilakukan di bawah pemerintahan Clinton, Pusat Komando AS (USCENTCOM) telah menyusun "rencana medan perang", untuk menyerang Irak dan kemudian Iran. Akses terhadap minyak Timur Tengah merupakan tujuan strategis lain.
Keputusan untuk menargetkan Iran di bawah TIRANNT adalah bagian dari proses perencanaan militer yang lebih luas dari urutan operasi militer. Hal ini sudah dilakukan di bawah pemerintahan Clinton, Pusat Komando AS (USCENTCOM) telah menyusun "rencana medan perang", untuk menyerang Irak dan kemudian Iran. Akses terhadap minyak Timur Tengah merupakan tujuan strategis lain.
"Kepentingan dan tujuan keamanan nasional yang luas dinyatakan
Presiden dalam Strategi Keamanan Nasional – National Security Strategy
(NSS) dan Ketua Strategi Militer Nasional – National Military Strategy
(NMS) membentuk dasar strategi medan perang Pusat Komando AS (NSS)
mengarahkan pelaksanaan strategi penahanan ganda dari negara-negara
nakal seperti Irak dan Iran selama negara-negara tersebut menjadi
ancaman terhadap kepentingan AS, kepada negara-negara lain di wilayah
ini, dan termasuk warganegaranya. Penahanan ganda dirancang untuk
menjaga keseimbangan kekuasaan di wilayah itu tanpa tergantung baik
kepada Iraq atau Iran. Strategi medan perang terhadap Iran yaitu
USCENTCOM merupakan interest-based dan threat-focused. Tujuan dari
keterlibatan AS seperti yang dianut NSS, untuk melindungi kepentingan
vital AS di Timur Tengah agar tidak terganggu. Amerika Serikat aman
demikian pula akses Sekutu kepada minyak Teluk." (USCENTCOM,
http://www.milnet.com/milnet/pentagon/centcom/chap1/stratgic.htm#USPolicy,
link no longer active, archived at http://tinyurl.com/37gafu9).
Perang di Iran dipandang sebagai bagian dari suksesi operasi militer.
Menurut (mantan) Panglima NATO Jenderal Wesley Clark, peta-jalan
militer Pentagon terdiri dari urutan negara-negara: "Rencana operasi
militer lima tahun [termasuk] … total tujuh negara, dimulai dengan Irak,
kemudian Suriah, Libanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan." Dalam
"Winning Modern Wars" (halaman 130) Jenderal Clark menyatakan sebagai
berikut:
"Ketika saya kembali ke Pentagon pada bulan November 2001, salah
seorang staf petugas senior militer menyediakan waktu untuk
bercakap-cakap. Ya, kami masih berada dalam jalur melawan Irak. Tapi
masih ada lagi. Katanya hal ini sedang dibahas sebagai bagian dari
rencana operasi militer lima tahun, dan jumlahnya ada tujuh negara,
dimulai dengan Irak, lalu Suriah, Libanon, Libya, Iran, Somalia dan
Sudan (See Secret 2001 Pentagon Plan to Attack Lebanon, Global Research,
July 23, 2006).
| Perang di Suriah sudah dimulai 26/06/2012 |
Peran Israel
Terdapat banyak perdebatan mengenai peranan Israel dalam memulai serangan terhadap Iran. Israel merupakan bagian dari sebuah aliansi militer. Tel Aviv bukanlah penggerak utama. Israel tidak memiliki agenda militer yang terpisah dan berbeda.
Israel terintegrasi ke dalam "rencana perang untuk operasi tempur
besar" terhadap Iran yang dirumuskan pada tahun 2006 oleh Komando
Strategis AS (USSTRATCOM). Dalam konteks operasi militer skala besar,
tindakan militer sepihak yang tidak terkoordinasi oleh salah satu mitra
koalisi (Israel), hampir mustahil (dari sudut pandang militer dan
strategis). Israel secara de facto anggota NATO. Setiap tindakan Israel
akan membutuhkan "lampu hijau" dari Washington.
Sebuah serangan oleh Israel bisa digunakan sebagai "mekanisme pemicu"
yang akan melancarkan perang habis-habisan terhadap Iran, serta
pembalasan oleh Iran yang diarahkan kepada Israel.
Dalam hal ini, ada indikasi Washington mempertimbangkan pilihan
serangan awal Israel dengan (dukungan AS) dan bukan sebuah operasi
militer pimpinan AS langsung diarahkan ke Iran. Serangan Israel –
meskipun hubungannya dekat dengan Pentagon dan NATO – akan disampaikan
kepada opini publik sebagai keputusan sepihak oleh Tel Aviv. Hal ini
kemudian akan digunakan oleh Washington untuk membenarkan di mata opini
dunia, berupa intervensi militer AS dan NATO dengan maksud untuk
"mempertahankan Israel", daripada menyerang Iran. Dalam perjanjian kerja
sama militer yang ada, baik AS maupun NATO "diwajibkan" untuk "membela
Israel" bila diserang Iran dan Suriah.
Perlu dicatat, pada awal masa jabatan kedua Bush, Mantan Wakil
Presiden Dick Cheney mengisyaratkan, dengan tegas, bahwa Iran berada
"paling atas dalam daftar" dari "musuh nakal" Amerika, dan Israel
menyatakan "melakukan pemboman untuk kita", tanpa keterlibatan militer
AS dan tanpa kita menekan mereka "untuk melakukannya" (See Michel
Chossudovsky, Planned US-Israeli Attack on Iran, Global Research, May 1,
2005): Menurut Cheney:
"Salah satu kekhawatiran orang adalah Israel mungkin melakukannya
tanpa diminta … Mengingat fakta bahwa Iran memiliki kebijakan yang
menyatakan tujuan mereka adalah menghancurkan Israel. Israel mungkin
memutuskan untuk bertindak lebih awal, dan membiarkan seluruh dunia
khawatir mengenai penyelesaian kekacauan diplomatik setelah itu,
"(Dick Cheney, dikutip dari Wawancara MSNBC, Januari 2005).
Mengomentari pernyataan Wakil Presiden, mantan penasehat Keamanan
Nasional, Zbigniew Brzezinski dalam sebuah wawancara di PBS, menegaskan
sambil khawatir akan terjadi: Ya, Cheney menginginkan Perdana Menteri
Ariel Sharon untuk bertindak atas nama Amerika dan "melakukannya" untuk
kita.
"Saya pikir Iran lebih ambigu. Dan ada masalah disana, tentu bukan
tirani;.. itu adalah senjata nuklir. Dan Wakil Presiden dalam pernyataan
paralel yang aneh mengisyaratkan bahwa Israel mungkin melakukannya,
namun kenyataannya menggunakan bahasa yang terdengar seperti pembenaran
atau bahkan suatu dorongan bagi Israel untuk melakukannya."
Apa yang berurusan dengan kita adalah operasi militer bersama
AS-NATO-Israel untuk membom Iran, yang telah dalam tahap perencanaan
aktif sejak tahun 2004. Pejabat Departemen Pertahanan, di bawah Bush dan
Obama, telah bekerja tekun dengan militer Israel dan mitra-mitra
intelijennya mengidentifikasi dengan hati-hati sasaran di wilayah Iran.
Dalam istilah praktis militer, setiap tindakan Israel harus direncanakan
dan dikoordinasikan di tingkat tertinggi koalisi yang dipimpin AS.
Serangan oleh Israel juga memerlukan koordinasi dukungan logistik
ASt–NATO, khususnya berkaitan dengan sistem pertahanan udara Israel,
yang sejak Januari 2009 sepenuhnya terintegrasi ke dalam AS dan NATO.
(Michel Chossudovsky, Unusually Large U.S. Weapons Shipment to Israel:
Are the US and Israel Planning a Broader Middle East War? Global
Research, January 11,2009).
Sistem radar X band Israel dibangun awal tahun 2009 dengan dukungan
teknis AS telah "mengintegrasikan sistem pertahanan rudal Israel dengan
jaringan deteksi rudal global AS [Pangkalan-Ruang Angkasa], yang
meliputi satelit, kapal Aegis di Mediterania, Teluk Persia dan Laut
Merah serta Patriot radar dan yang berpangkalan di darat." (Defense
Talk.com, January 6, 2009).
Apakah ini berarti Washington akhirnya memutuskan apa yang seharusnya
dilakukan. Lebih baik AS daripada Israel yang mengendalikan sistem
pertahanan udara:'Ini artinya tetap dengan menggunakan sistem radar AS,'
"kata juru bicara Pentagon, Geoff Morrell. "Jadi ini bukan sesuatu yang
kita berikan atau menjualnya kepada Israel dan hal itu adalah sesuatu
yang wajar akan memerlukan personel AS untuk mengoperasikannya.'"
(Dikutip dari Israel National News, 9 Januari 2009).
Angkatan Udara AS mengawasi sistem Pertahanan Udara Israel, yang
terintegrasi ke dalam sistem global Pentagon. Dengan kata lain, Israel
tidak dapat melancarkan perang terhadap Iran tanpa persetujuan
Washington. Oleh karena pentingnya undang-undang yang disebut "Green
Light" di Kongres AS yang disponsori partai Republik di bawah Resolusi
House 1553, yang secara eksplisit mendukung serangan Israel terhadap
Iran:
"Undang-undang diajukan Louie Gohmert, partai Republik dari Texas dan
46 rekannya, mendukung penggunaan "semua sarana yang diperlukan Israel"
terhadap Iran "termasuk penggunaan kekuatan militer…."Kita harus
melakukan ini. Kami perlu menunjukkan dukungan kepada Israel. Kita harus
berhenti bermain game dengan Sekutu penting di tengah wilayah yang
sulit"' (See Webster Tarpley, Fidel Castro Warns of Imminent Nuclear
War; Admiral Mullen Threatens Iran; US-Israel Vs. Iran-Hezbollah
Confrontation Builds On, Global Research, August 10, 2010).
Undang-undang yang diusulkan adalah "Green Light" kepada Gedung Putih
dan Pentagon daripada kepada Israel. Ini merupakan persetujuan untuk
perang yang disponsori AS melawan Iran yang menggunakan Israel sebagai
landasan melancarkan gerakan militer yang sesuai. Hal ini juga berfungsi
sebagai pembenar untuk berperang dengan tujuan untuk membela Israel.
| Serangan Israel ke Gaza |
Dalam konteks ini, Israel memang bisa memberikan alasan palsu untuk
berperang, sebagai tanggapan terhadap dugaan serangan Hamas atau
serangan Hizbullah atau memicu permusuhan di perbatasan Israel dengan
Lebanon. Apa yang penting untuk dipahami adalah sebuah "insiden" kecil
dapat digunakan sebagai alasan untuk memicu operasi militer besar
terhadap Iran.
Perencana militer AS memperkirakan, Israel akan menjadi sasaran
pertama pembalasan militer Iran (bukan AS). Secara umum, bangsa Israel
akan menjadi korban dari intrik Washington maupun pemerintah mereka
sendiri. Ya, dalam hal ini, sangat penting bahwa Israel tegas menentang
setiap tindakan oleh pemerintah Netanyahu untuk menyerang Iran.
Peperangan Global: Peran Komando Strategis AS (USSTRATCOM)
Operasi militer global dikoordinasikan dari Markas Komando Strategis AS (USSTRATCOM) dari pangkalan Angkatan Udara Offutt di Nebraska, berkerja sama dengan komando regional, Komando Pejuang Terpadu. Yakni, Komando Sentral AS di Florida, yang bertanggung jawab untuk Timur Tengah -Tengah dan kawasan Asia, serta unit komando koalisi di Israel, Turki, Teluk Persia dan Diego Garcia, yaitu pangkalan militer AS di Samudera Hindia. Perencanaan Militer dan pengambilan keputusan di tingkat negara sekutu AS-NATO diintegrasikan ke dalam desain militer global termasuk mempersenjatai ruang angkasa.
Operasi militer global dikoordinasikan dari Markas Komando Strategis AS (USSTRATCOM) dari pangkalan Angkatan Udara Offutt di Nebraska, berkerja sama dengan komando regional, Komando Pejuang Terpadu. Yakni, Komando Sentral AS di Florida, yang bertanggung jawab untuk Timur Tengah -Tengah dan kawasan Asia, serta unit komando koalisi di Israel, Turki, Teluk Persia dan Diego Garcia, yaitu pangkalan militer AS di Samudera Hindia. Perencanaan Militer dan pengambilan keputusan di tingkat negara sekutu AS-NATO diintegrasikan ke dalam desain militer global termasuk mempersenjatai ruang angkasa.
Di bawah mandat baru, USSTRATCOM memiliki tanggung jawab untuk
"mengawasi rencana serangan global" yang terdiri dari senjata
konvensional dan nuklir. Dalam jargon militer, yang dijadwalkan untuk
memainkan peran adalah "sebuah integrator global dengan beban misi
Operasi Ruang Angkasa; Operasi Informasi; Pertahanan Rudal Terpadu;
Komando Global & Pengendalian; Intelijen, Surveillance dan
Reconnaissance; Global Strike; dan Strategic Deterrence… ".
Tanggung jawab USSTRATCOM meliputi: "Memimpin, perencanaan, pelaksanaan
strategis & operasi pencegahan " di tingkat global, "sinkronisasi
rencana operasi dan pertahanan rudal global", "sinkronisasi rencana
perang regional", dll. USSTRATCOM merupakan lembaga utama dalam
mengkoordinasikan peperangan modern .
Pada bulan Januari 2005, awal pengerahan dan pembangunan militer yang
ditujukan kepada Iran, USSTRATCOM dijadikan sebagai "Komando Perang
untuk integrasi dan sinkronisasi Departemen Pertahanan AS, dalam upaya
memerangi senjata pemusnah massal." (Michel Chossudovsky, Nuclear War
against Iran, Global Research, January 3, 2006).
Apakah ini berarti koordinasi serangan yang berskala besar terhadap
Iran, termasuk berbagai skenario eskalasi di dalam dan di luar wilayah
Timur Tengah serta yang lebih luas Asia Tengah akan dikoordinasikan oleh
USSTRATCOM ?.
Senjata Nuklir Taktis Diarahkan Ke Iran
Dikonfirmasi dengan dokumen militer serta laporan resmi, baik AS maupun Israel memikirkan penggunaan senjata nuklir yang diarahkan terhadap Iran. Pada tahun 2006, Komando Strategis AS (USSTRATCOM) mengumumkan pihaknya telah mencapai kemampuan operasional untuk mentargetkan sasaran secara cepat dengan menggunakan senjata nuklir atau senjata konvensional ke seluruh dunia. Pengumuman ini dibuat setelah melakukan simulasi militer yang berkaitan dengan serangan nuklir yang dipimpin AS terhadap negara fiktif. (David Ruppe, Preemptive Nuclear War in a State of Readiness: U.S. Command Declares Global Strike Capability, Global Security Newswire, December 2, 2005).
Dikonfirmasi dengan dokumen militer serta laporan resmi, baik AS maupun Israel memikirkan penggunaan senjata nuklir yang diarahkan terhadap Iran. Pada tahun 2006, Komando Strategis AS (USSTRATCOM) mengumumkan pihaknya telah mencapai kemampuan operasional untuk mentargetkan sasaran secara cepat dengan menggunakan senjata nuklir atau senjata konvensional ke seluruh dunia. Pengumuman ini dibuat setelah melakukan simulasi militer yang berkaitan dengan serangan nuklir yang dipimpin AS terhadap negara fiktif. (David Ruppe, Preemptive Nuclear War in a State of Readiness: U.S. Command Declares Global Strike Capability, Global Security Newswire, December 2, 2005).
Kesinambungan dalam hubungannya dengan era Bush-Cheney: Presiden
Obama telah mendukung sebagian besar doktrin pre-emptive penggunaan
senjata nuklir yang dirumuskan oleh pemerintahan sebelumnya. Di bawah
the 2010 Nuclear Posture Review, pemerintahan Obama menegaskan "bahwa
itu merupakan pesan berupa hak untuk menggunakan senjata nuklir terhadap
Iran" sebagai risiko ketidak-kepatuhan Iran terhadap tuntutan AS
mengenai program dugaan (tidak ada) senjata nuklir.
(U.S. Nuclear Option on Iran Linked to Israeli Attack Threat – IPS ipsnews.net, April 23, 2010).
(U.S. Nuclear Option on Iran Linked to Israeli Attack Threat – IPS ipsnews.net, April 23, 2010).
Pemerintahan Obama juga mengisyaratkan akan menggunakan nuklir dalam
hal Iran merespon atas serangan Israel kepada Iran. (Ibid). Israel juga
membuat sendiri "rencana rahasia" untuk membom Iran dengan senjata
nuklir taktis.
Sumber-sumber senior mengatakan ""Komandan militer Israel yakin
serangan konvensional mungkin tidak lagi cukup untuk memusnahkan
fasilitas pengayaan yang semakin baik dipertahankan. Beberapa telah
dibangun di bawah tanah minimal 70 kaki dari beton dan batu. Namun, the
nuclear-tipped bunker-busters akan digunakan hanya jika serangan
konvensional dikesampingkan dan jika AS menolak untuk campur
tangan."(Revealed: Israel plans nuclear strike on Iran – Times Online,
January 7, 2007).
Pernyataan Obama tentang penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dan
Korea Utara konsisten dengan doktrin senjata nuklir AS pasca 9/11 yang
memungkinkan untuk penggunaan senjata nuklir taktis di medan perang
konvensional.
Melalui kampanye propaganda yang telah meminta dukungan dari
"otoritatif" ilmuwan nuklir, senjata nuklir mini itu didukung sebagai
instrumen perdamaian, yaitu sarana untuk memerangi "terorisme Islam" dan
mengukuhkan "demokrasi" gaya Barat di Iran. Nuklir low-yield telah
dibersihkan untuk "digunakan di medan perang". Senjata nuklir tersebut
dijadwalkan akan digunakan Amerika terhadap Iran dan Suriah dalam tahap
berikutnya, disamping senjata konvensional dalam "perang melawan
Terorisme".
"Para pejabat pemerintah menyatakana senjata nuklir low-yield
diperlukan sebagai pencegah yang kredibel terhadap negara-negara nakal
(Iran, Suriah, Korea Utara). Logika mereka adalah, senjata nuklir yang
ada, terlalu destruktif untuk digunakan kecuali dalam perang nuklir yang
berskala penuh. Musuh-musuh potensial menyadari hal ini, sehingga
mereka tidak memperhitungkan ancaman pembalasan nuklir dapat dipercaya.
Namun, senjata-senjata low-yield kurang daya merusaknya, sehingga dapat
dipikirkan untuk digunakan. Dengan demikian akan menjadikan mereka lebih
efektif sebagai senjata penangkal." (Opponents Surprised By Elimination
of Nuke Research Funds Defense News November 29, 2004).
Pemilihan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran berupa senjata
nuklir taktis (buatan Amerika), yaitu bunker buster bom dengan hulu
ledak nuklir (misalnya B61-11), dengan kapasitas peledak antara
sepertiga sampai enam kali bom Hiroshima. The B61-11 adalah "versi
nuklir" dari "konvensional" BLU 113 atau Unit Pemandu Bom GBU-28.. Bom
ini dapat dibawa dengan cara yang sama seperti bunker buster bom
konvensional.
(http://www.globalresearch.ca/articles/CHO112C.html, see
also
http://www.thebulletin.org/article_nn.php?art_ofn=jf03norris).
| Bom B61-11 "earth penetrator" di Pesawat B-2 |
AS tidak menggunakan senjata termonuklir strategis terhadap Iran, namun
Israel bisa saja menggunakan bom termonuklir dalam perang dengan Iran.
Dengan sistem rudal Jericho-III Israel yang jangkauannya berkisar antara
4.800 km sampai 6.500 km, maka semua wilayah Iran berada dalam
jangkauan.
Jatuhan Radioaktif
Persoalan jatuhan radioaktif dan kontaminasi (meski dikesampingkan oleh analis militer AS-NATO), dampaknya bisa menghancurkan dan berpotensi merusak wilayah yang luas di Timur Tengah termasuk Israel dan Asia Tengah.
Persoalan jatuhan radioaktif dan kontaminasi (meski dikesampingkan oleh analis militer AS-NATO), dampaknya bisa menghancurkan dan berpotensi merusak wilayah yang luas di Timur Tengah termasuk Israel dan Asia Tengah.
namun dengan logika yang diplintir, senjata nuklir akan dinyatakan
sebagai sarana untuk membangun perdamaian dan mencegah "kerusakan
kolateral". Tidak ada senjata nuklir Iran apalagi merupakan ancaman bagi
keamanan global, sebaliknya AS dan Israel adalah instrumen perdamaian
yang "tidak membahayakan bagi penduduk sipil di sekitarnya".
"The Mother of All Bombs" (MOAB) untuk Iran"
Signifikansi militer senjata konvensional dalam angkatan bersenjata Amerika adalah 21.500-pon "senjata rakasa" dijuluki GBU-43/B or Massive Ordnance Air Blast bomb (MOAB) dikategorikan "sebagai senjata non-nuklir paling kuat yang pernah dirancang" sebagai arsenal konvensional terbesar di AS. MOAB diuji awal Maret 2003 sebelum dikirim ke medan perang Irak. Menurut sumber-sumber militer AS, Kepala Staf Gabungan telah memberitahu pemerintah Saddam Hussein sebelum diluncurkan tahun 2003 bahwa "The Mother of All Bombs" (MOAB)" akan digunakan terhadap Irak. (Ada laporan yang belum dikonfirmasi bahwa MOAB telah digunakan di Irak).
Signifikansi militer senjata konvensional dalam angkatan bersenjata Amerika adalah 21.500-pon "senjata rakasa" dijuluki GBU-43/B or Massive Ordnance Air Blast bomb (MOAB) dikategorikan "sebagai senjata non-nuklir paling kuat yang pernah dirancang" sebagai arsenal konvensional terbesar di AS. MOAB diuji awal Maret 2003 sebelum dikirim ke medan perang Irak. Menurut sumber-sumber militer AS, Kepala Staf Gabungan telah memberitahu pemerintah Saddam Hussein sebelum diluncurkan tahun 2003 bahwa "The Mother of All Bombs" (MOAB)" akan digunakan terhadap Irak. (Ada laporan yang belum dikonfirmasi bahwa MOAB telah digunakan di Irak).
Departemen Pertahanan AS telah mengkonfirmasi pada bulan Oktober
2009, bermaksud untuk menggunakan MOAB/GBU-43/B terhadap Iran.
Dikatakannya MOAB "ideal untuk mengubur fasilitas nuklir seperti Natanz
atau Qom di Iran" (Jonathan Karl, Is the U.S. Preparing to Bomb Iran?
ABC News, October 9, 2009). MOAB dengan daya ledaknya yang dasyat, akan
mengakibatkan korban sipil yang sangat besar. Ini adalah "mesin
pembunuh" konvensional dengan jenis awan jamur nuklir.
Pengadaan empat MOAB ditugaskan pada bulan Oktober 2009 dengan biaya
yang cukup besar sejumlah US$,58,4 juta ($ 14,6 juta untuk masing-masing
bom). Jumlah ini termasuk untuk membiaya pengembangan dan pengujian
serta integrasi bom MOAB ke pembom siluman B-2. (ibid). pengadaan ini
berkaitan langsung dengan persiapan perang dalam hubungannya dengan
Iran. Pemberitahuan dimuat dalam sebuah "reprogramming memo" setebal 93
halaman termasuk instruksi berikut ini:
"Departemen memiliki sebuah Urgent Operational Need (UON) yang
berkemampuan menyerang sasaran keras di daerah yang tinggi tingkat
ancamannya dan sekaligus menguburkannya. Massive Ordnance Penetrator
(MOP) adalah senjata pilihan yang memenuhi persyaratan UON [Urgent
Operational Need]".
Permintaan tersebut didukung oleh Komando Pasifik
(yang memiliki tanggung jawab atas Korea Utara) dan Komando Sentral
(yang memiliki tanggung jawab atas Iran). (ABC News, op cit, emphasis
added).
Pentagon merencanakan sebuah proses kehancuran infrastruktur Iran dan
korban massal sipil melalui penggunaan gabungan nuklir taktis dan bom
konvensional rakasa awan jamur, termasuk MOAB dan yang lebih besar lagi
yaitu GBU-57a/B atau Massive Ordnance Penetrator (MOP), yang melampaui
MOAB dalam hal kapasitas daya ledaknya.
MOP digambarkan sebagai "sebuah bom baru yang kuat dan tepat sasaran
untuk menghantam fasilitas nuklir bawah tanah Iran dan Korea Utara. Bom
raksasa yang ukuran panjangnya lebih dari 11 orang duduk berdempetan
bahu-ke-bahu atau lebih dari 20 kaki dari lantai ke hidung" (See Edwin
Black, "Super Bunker-Buster Bombs Fast-Tracked for Possible Use Against
Iran and North Korea Nuclear Programs).
| Mother Of All Bombs – MOAB |
Ini adalah WMD dalam artian yang sebenarnya. Tujuannya tidak begitu
tersembunyi dari MOAB dan MOP, termasuk penggunaan nama julukan Amerika
untuk menggambarkan secara sederhana bahwa MOAB ("ibu dari semua bom'),
adalah "pemusnah massal" dan korban sipil secara massal dengan maksud
untuk menanamkan rasa takut dan putus asa.
Perang Menjadi Mungkin Dengan Teknologi Baru
Proses pengambilan keputusan militer AS dalam hubungannya dengan Iran ini didukung oleh Star Wars, militerisasi ruang angkasa dan revolusi dalam komunikasi serta sistem informasi. Mengingat kemajuan teknologi militer dan pengembangan sistem senjata baru, serangan terhadap Iran bisa secara signifikan berbeda dalam hal sistem senjata, bila dibandingkan dengan Blitzkrieg yang dilancarkan pada bulan Maret 2003 terhadap Irak, operasi militer terhadap Iran dijadwalkan untuk menggunakan sistem senjata yang paling canggih untuk mendukung serangan udara tersebut. Dan dalam semua kemungkinan, sistem senjata baru akan diuji.
Proses pengambilan keputusan militer AS dalam hubungannya dengan Iran ini didukung oleh Star Wars, militerisasi ruang angkasa dan revolusi dalam komunikasi serta sistem informasi. Mengingat kemajuan teknologi militer dan pengembangan sistem senjata baru, serangan terhadap Iran bisa secara signifikan berbeda dalam hal sistem senjata, bila dibandingkan dengan Blitzkrieg yang dilancarkan pada bulan Maret 2003 terhadap Irak, operasi militer terhadap Iran dijadwalkan untuk menggunakan sistem senjata yang paling canggih untuk mendukung serangan udara tersebut. Dan dalam semua kemungkinan, sistem senjata baru akan diuji.
Dokumen The 2000 Project of the New American Century – Proyek Tahun
2000 Abad Baru Amerika yang berjudul "Rebuilding American Defenses".,
menguraikan mandat militer AS dalam hal medan perang berskala besar,
yang akan dilancarkan secara bersamaan di berbagai wilayah Dunia:
"Memenangkan Beberapa pertempuran dengan meyakinkan secara simultan
dalam beberapa medan perang."
Formulasi ini berupa penaklukan perang global oleh kekaisaran adidaya
tunggal. Dokumen PNAC juga menyerukan transformasi pasukan AS untuk
mengeksploitasi "revolusi dalam urusan militer", yaitu penerapan "perang
yang dimungkinkan melalui teknologi baru" (See Project for a New
American Century, Rebuilding Americas Defenses Washington DC, September
2000, pdf). Yang terakhir ini terdiri dari pengembangan dan
penyempurnaan kecanggihan mesin pembunuh global berdasarkan gudang
persenjataan baru yang canggih, yang pada akhirnya akan menggantikan
paradigma yang ada.
"Dengan demikian, dapat diramalkan bahwa proses transformasi justru
akan menjadi proses dua-tahap:. Pertama transisi, yaitu transformasi
yang lebih menyeluruh. Titik nyaman akan datang ketika jumlah yang lebih
besar sistem senjata baru mulai memasuki masa tugasnya, mungkin ketika,
misalnya, pesawat udara tak berawak mulai banyak menjadi biasa seperti
pesawat berawak. Dalam hal ini, Pentagon harus sangat berhati-hati
melakukan investasi besar dalam program-program baru misalnya -tank,
pesawat, kapal induk,- dimana pasukan AS akan berkomitmen melakukan
paradigma baru untuk berperang selama beberapa dekade yang akan datang.
(ibid, penekanan ditambahkan).
Perang dengan Iran memang bisa menandai breakpoint penting ini,
dengan sistem senjata baru yang berpangkalan di angkasa dipergunakan
untuk melumpuhkan musuh yang memiliki kemampuan konvensional militer
yang signifikan yang jumlahnya lebih dari setengah juta pasukan darat.
Senjata Elektromagnetik
Senjata elektromagnetik dapat digunakan untuk mengacaukan sistem komunikasi Iran, menonaktifkan pembangkit tenaga listrik, merusak dan mengacaukan komando serta kontrol, infrastruktur pemerintah, transportasi, energi, dll. Dalam jenis senjata yang sama, teknik modifikasi lingkungan (ENMOD) (peperangan cuaca) yang dikembangkan berdasarkan program HAARP juga bisa diterapkan. (Lihat Chossudovsky Michel, "Owning the Weather" for Military Use, Global Research, September 27, 2004). Sistem senjata ini sepenuhnya operasional. Dalam konteks ini, dokumen Angkatan Udara AS yakni AF 2025 secara eksplisit membenarkan aplikasi militer dengan teknologi modifikasi cuaca.
Senjata elektromagnetik dapat digunakan untuk mengacaukan sistem komunikasi Iran, menonaktifkan pembangkit tenaga listrik, merusak dan mengacaukan komando serta kontrol, infrastruktur pemerintah, transportasi, energi, dll. Dalam jenis senjata yang sama, teknik modifikasi lingkungan (ENMOD) (peperangan cuaca) yang dikembangkan berdasarkan program HAARP juga bisa diterapkan. (Lihat Chossudovsky Michel, "Owning the Weather" for Military Use, Global Research, September 27, 2004). Sistem senjata ini sepenuhnya operasional. Dalam konteks ini, dokumen Angkatan Udara AS yakni AF 2025 secara eksplisit membenarkan aplikasi militer dengan teknologi modifikasi cuaca.
"Modifikasi Cuaca akan menjadi bagian dari keamanan domestik dan
internasional dan bisa dilakukan secara sepihak … Senjata ini bisa
aplikasikan baik secara ofensif maupun defensif dan bahkan dapat
digunakan untuk tujuan pencegahan. Senjata ini berkemampuan menghasilkan
curah hujan, kabut, dan badai di bumi atau mengubah ruang cuaca,
meningkatkan komunikasi melalui modifikasi ionosfir (penggunaan cermin
ionosfir), serta produksi cuaca buatan, yang kesemuanya itu merupakan
bagian dari serangkaian teknologi terpadu yang dapat memberikan
peningkatan penting dalam kemampuan AS atau dalam menundukkan musuh,
juga untuk mencapai kesadaran global, jangkauan, dan kekuasaan. " (Air
Force 2025 Final Report, See also US Air Force: Weather as a Force
Multiplier: Owning the Weather in 2025, AF2025 v3c15-1 (Weather as a
Force Multiplier: Owning…)(Ch 1) at www.fas.org).
Radiasi elektromagnetik memungkinkan melakukan "gangguan kesehatan
dari jarak jauh" mungkin juga dipikirkan untuk digunakan dalam medan
perang. (See Mojmir Babacek, Electromagnetic and Informational Weapons:,
Global Research, August 6, 2004). Pada gilirannya, penggunaan baru
senjata biologis oleh militer AS juga akan dipertimbangkan seperti yang
disarankan oleh PNAC: "Lebih lanjut bentuk peperangan biologis dapat
"mentargetkan" genotipe tertentu yang mungkin mengubah perang biologis
dari dunia teror menjadi alat politik yang berguna." (PNAC cit, op, hal.
60).
Misil Jarak Menengah dan Jauh Iran
Kemampuan militer Iran telah maju, termasuk misil jarak menengah dan jauh yang mampu mencapai sasaran di Israel dan negara-negara Teluk. Karena itu perhatian aliansi AS-NATO Israel pada penggunaan senjata nuklir, yang dijadwalkan akan digunakan baik secara pre-emptive maupun sebagai respons pembalasan terhadap serangan rudal Iran.
Kemampuan militer Iran telah maju, termasuk misil jarak menengah dan jauh yang mampu mencapai sasaran di Israel dan negara-negara Teluk. Karena itu perhatian aliansi AS-NATO Israel pada penggunaan senjata nuklir, yang dijadwalkan akan digunakan baik secara pre-emptive maupun sebagai respons pembalasan terhadap serangan rudal Iran.
| Shahab Missiles, Iran |
Pada bulan November 2006, Iran menguji-coba dua rudal permukaan yang
dilakukan bertahap dengan operasi perencanaan yang tepat dan hati-hati.
Menurut seorang ahli rudal senior Amerika (dikutip oleh Debka), "Iran
memperlihatkan up-to-date teknologi peluncur-rudal dimana Barat tidak
mengetahui bahwa Iran memilikinya." (See Michel Chossudovsky, Iran's
"Power of Deterrence" Global Research, November 5, 2006) Israel
acknowledged that "the Shehab-3, whose 2,000-km range brings Israel, the
Middle East and Europe within reach" (Debka, November 5, 2006).
Menurut Uzi Rubin, mantan kepala program misil anti-balistik Israel,
"Intensitas latihan militer belum pernah terjadi sebelumnya … Hal itu
dimaksudkan untuk membuat kesan dan berhasil membuat kesan."
(www.cnsnews.com 3 November 2006).
Latihan tahun 2006, sekaligus menciptakan sebuah gelora politik di AS
dan Israel, dengan cara apa pun tidak mengubah keputusan AS-NATO-Israel
untuk melancarkan perang terhadap Iran.
Teheran telah menegaskan dalam beberapa pernyataannya, Iran akan
merespon jika diserang. Israel akan menjadi tujuan langsung dari
serangan rudal Iran seperti ditegaskan oleh pemerintah Iran. Oleh karena
itu persoalan sistem pertahanan udara Israel penting. AS dan fasilitas
militer Sekutu di negara-negara Teluk seperti Turki, Arab Saudi,
Afghanistan dan Irak juga bisa menjadi sasaran target Iran.
Angkatan Darat Iran
Wilayah Iran dikelilingi pangkalan militer AS dan Sekutu, Iran memiliki kemampuan militer yang signifikan. Yang penting untuk diketahui adalah jumlah kekuatan angkatan bersenjata Iran (Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara), dibandingkan dengan pasukan AS dan NATO yang bertugas di Afghanistan dan Irak.
Wilayah Iran dikelilingi pangkalan militer AS dan Sekutu, Iran memiliki kemampuan militer yang signifikan. Yang penting untuk diketahui adalah jumlah kekuatan angkatan bersenjata Iran (Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara), dibandingkan dengan pasukan AS dan NATO yang bertugas di Afghanistan dan Irak.
Menghadapi sebuah pemberontakan yang terorganisir, pasukan koalisi
sudah kewalahan di Afghanistan dan Irak. Apakah kekuatan ini mampu
mengatasi jika pasukan darat Iran memasuki medan perang yang ada di Irak
dan Afghanistan? Potensi gerakan perlawanan terhadap AS dan sekutu
pendudukan pasti akan terpengaruh.
Pasukan darat Iran 700.000 orang, sejumlah 130.000 orang tentara
profesional, 220.000 wajib militer dan 350.000 tentara cadangan. (See
Islamic Republic of Iran Army – Wikipedia). Ada 18.000 personil Angkatan
Laut dan 52.000 angkatan udara Iran. Menurut International Institute
for Strategic Studies, Iran "memiliki Pengawal Revolusi yang
diperkirakan berjumlah 125.000 personil dalam lima Angkatan: Mereka
punya Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Pasukan Darat sendiri serta
Pasukan Quds (Pasukan Khusus)". Menurut CISS, Basij yaitu sukarelawan
paramiliter Iran berkekuatan 90.000 orang berseragam aktif bertugas dan
dikontrol oleh Pengawal Revolusi. 300.000 cadangan dan total 11 juta
orang yang dapat dimobilisasi jika diperlukan" (Armed Forces of the
Islamic Republic of Iran – Wikipedia). Dengan kata lain, Iran bisa
memobilisasi sampai setengah juta pasukan reguler dan beberapa juta
milisi. Pasukan khusus Quds sudah beroperasi di Irak.
| Tentara Iran |
Pengepungan Iran
Dalam beberapa tahun ini Iran telah melakukan latihan perang sendiri. Sementara Angkatan Udaranya memiliki kelemahan, namun rudal jarak menengah dan jauh sepenuhnya operasional. Militer Iran dalam keadaan siap. Pemusatan pasukan Iran berada dalam jarak beberapa kilometer dari perbatasan Irak dan Afghanistan dan dekat perbatasan Kuwait. Angkatan Laut Iran dikerahkan ke Teluk Persia dengan jarak yang dekat kepada fasilitas militer AS dan Sekutu di Uni Emirat Arab.
Dalam beberapa tahun ini Iran telah melakukan latihan perang sendiri. Sementara Angkatan Udaranya memiliki kelemahan, namun rudal jarak menengah dan jauh sepenuhnya operasional. Militer Iran dalam keadaan siap. Pemusatan pasukan Iran berada dalam jarak beberapa kilometer dari perbatasan Irak dan Afghanistan dan dekat perbatasan Kuwait. Angkatan Laut Iran dikerahkan ke Teluk Persia dengan jarak yang dekat kepada fasilitas militer AS dan Sekutu di Uni Emirat Arab.
Perlu dicatat bahwa dalam menanggapi peningkatan jumlah besar militer
Iran, AS telah mengirim senjata ke Sekutu non-anggota NATO di Teluk
Persia termasuk Kuwait dan Arab Saudi.
Senjata canggih Iran tidak sebanding dengan AS dan NATO, namun
pasukan Iran berada dalam posisi untuk menimbulkan kerugian besar
terhadap pasukan koalisi dalam sebuah medan perang konvensional, di
wilayah Irak atau Afghanistan.
Pasukan darat Iran dan tank pada bulan Desember 2009 melintasi
perbatasan masuk ke wilayah Irak tanpa dihadapi atau ditantang oleh
pasukan Sekutu dan menduduki wilayah sengketa di ladang minyak Maysan
Timur.
Amerika bisa melakukan Blitzkrieg (Serangan Kilat), dengan target
fasilitas militer Iran, sistem komunikasinya dll, melalui pemboman udara
besar-besaran, dengan menggunakan rudal jelajah, bom bunker buster
konvensional dan senjata nuklir taktis. Namun perang dengan Iran, sekali
dimulai, akhirnya akan mengarah menjadi perang darat. Ini merupakan
sesuatu hal dimana perencana militer AS yakin hal tersebut harus masuk
ke dalam skenario simulasi perang mereka.
Jenis operasi ini akan mengakibatkan korban militer dan sipil yang
signifikan, terutama jika menggunakan senjata nuklir. Anggaran yang
membengkak untuk membiayai perang di Afghanistan saat ini diperdebatkan
di Kongres AS juga dimaksudkan untuk digunakan dalam kemungkinan
serangan terhadap Iran.
Dalam skenario eskalasi, pasukan Iran dapat menyeberang ke perbatasan Irak dan Afghanistan.
Pada gilirannya, eskalasi militer dengan menggunakan senjata nuklir
bisa membawa kita ke dalam sebuah skenario Perang Dunia 3, meluas di
luar kawasan Timur Tengah Asia Tengah.
Dalam arti yang sangat nyata, proyek militer ini, yang digambarkan
Pentagon selama lebih dari lima tahun, mengancam masa depan kemanusiaan.
Faktanya, persiapan perang telah sempurna dan dalam keadaan siap,
namun tidak berarti bahwa mereka akan melakukannya sesuai dengan
rencana.
Aliansi AS-NATO-Israel menyadari musuh memiliki kemampuan yang
signifikan untuk merespon dan membalas. Faktor ini penting dalam
mengambil keputusan (selama lima tahun terakhir), baik oleh AS maupun
Sekutunya untuk menunda serangan terhadap Iran.
Faktor penting lainnya adalah kerangka aliansi militer. Organisasi
Kerjasama Shanghai (SCO), aliansi antara Rusia – Cina dan sejumlah
negara eks Republik Soviet (Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan,
Uzbekistan), India, Iran, Mongolia dan Pakistan), mulai merapatkan
barisan. Banyak yang berpendapat organisasi ini merupakan penyeimbang
kekuatan dari organisasi NATO dan Amerika Serikat.
Untuk itulah AS terus-menerus melakukan ancaman langsung ditujukan
kepada Cina dan Rusia, untuk melemahkan SCO dan mencegah segala bentuk
aksi militer sebagai pihak sekutu yang akan membela Iran, dalam hal
terjadinya serangan NATO-AS-Israel.
| Skenario Perang Timur Tengah Meluas |
Terpilihnya Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia, merupakan mimpi buruk
bagi skenario aliansi NATO-AS-Israel. Putin terang terangan menentang
rencana AS-NATO untuk menjatuhkan Presiden Bashar Assad di Suriah.
Toleransi Putin atas sepak terjang AS dan NATO di Timur Tengah, dianggap
telah cukup.
Jika Suriah ambruk, Rusia harus mengatur ulang geo politikknya di
Timur Tengah. Padahal teater perang mereka di Eropa Timur pasca
runtuhnya Uni Soviet, masih berlubang-lubang. AS, NATO dan Israel bisa
saja terus memperlemah kekuatan SCO (Rusia-China) demi menggelar
skenario besar menghantam Iran, yang bisa berujung pada perang dunia
ketiga.
Kekuatan sentral dalam mencegah terjadinya perang pada akhirnya harus datang dari dalam masyarakat Internasional.
Rakyat harus memobilisir tidak hanya terhadap agenda militer jahat, namun juga harus menentang otoritas negara dan pejabat yang menyokong perang. Perang ini dapat dicegah jika rakyat bersikap tegas dalam menghadapi pemerintah, memberikan tekanan kepada wakil rakyat, mengorganisir di tingkat lokal di perkotaan dan pedesaan, menyebarkan berita, menginformasikan sesama warga mengenai implikasi perang nuklir, memulai debat dan diskusi dalam upaya mencegah perang di dalam angkatan bersenjata.
Sumber : http://jakartagreater.com/2012/06/israel/
Blog Ini. Diberdayakan oleh Blogger.
About
Berita Panas, Berita Terbaru, Berita Lama, Berita Unik, Berita Aneh, semuanya ada di sini.